Alhamdulillah, pagi ini bisa kembali bersua bersama teman-teman dengan media silaturrahim media ini, semoga bernilai ibadah deh, meski pada dasarnya hal ini dominan ke hobby. Tapi, apa-apa tuh kalau diniati ibadah, isnya’Allah bernilai ibadah. Begitu kata pak Ustadz.. 😀

Oh iya, barusan sempat baca di halaman sebelah tentang analogi pakaian dari beberapa ritual di bulan ramadan. Akhirnya saya punya hasrat untuk menuslis artikel sederhana ini. Tapi sebelumnya saya akan sampaikan beberapa hal yang saya baca di halaman sebelah, begini nih kira-kira kesimpulannya:

Pada bulan ramadhan kita semua sudah pasti melakukan ibadah puasa, taraweh, tadarrus atau tilawah plus sedekah. Tentunya bagi yang beriman lhooo…

Nah, dari sana barusan di halaman sebelah saya baca bahwa pada bulan ramadhan kita bisa dikatakan telah menenun pakaian taqwa, dimana dalam Al-Quran disampaikan bahwa kita dianjurkan beribadah itu agar kita bertaqwa.

Namun mirisnya, tidak banyak dari kita yang telah melakukan hal konyol selepas ramadhan berlalu, yakni dengan mengurai kembali pakaian taqwa kita yang selama (30 hari) ini kita telah susah payah menenunnya..

Na’udzubillah yaaaa,, semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang kuat dan terus dberi semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ritual penghambaan kita, meski di luar bulan ramadhan.

Teman-teman, banyak orang yang salah kaprah sebenarnya memahami datang dan perginya bulan ramadhan ini. Terbukti ketika ramadhan tiba, banyak saudara-saudara kita bergegas dan berbondong-bondong menuju ke arah perintah Tuhan (red: Allah) itu datang. Yang pasti melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya, yang hal itu merupakan definisi Taqwa. Namun, ketika ramadhan berlalu, semua ritual mulia itu ditanggalkan. Miris sekali. 😦

Padahal, kata para Ustad nih. Seseorang itu beruntung bila hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan apabila hari ini sama dengan hari kemarin maka sesungguhnya dia telah merugi dan benar-benar celakalah seseorang itu yang apabila hari ini lebih jelek dari hari kemarin.

Nah, sudah jelas bukan dimana salah kaprahnya. Benar sekali, kita itu harusnya selepas ramadhan berlalu bisa meningkatkan degala sesuatu yang berkaitan dengan ritual penghambaan kita kepada Allah. Sebab hanya dengan meningkatkan kita akan beruntung, dan bila tidak kita akan termasuk orang yang merugi, atau bahkan celaka. Na’uzubillah.

Jadi, kalau kita berkenan sebenarnya. Di luar bulan rmadhan juga bisa melakukan hal yang serupa dengan apa yang kita telah laksanakan pada bulan ramadhan. Sebab, bertaqwa bukan sebuah cita-cita dan tujuan pada bulan suci ini saja. Tapi bertaqwa hendaknya kita miliki dan terus mengiringi hari-hari dalam hidup kita hingga kita tertaqdir menghadap ketentuanNya. Jadi, bertaqwa itu bukan karena waktu yang notabene ramadhan merupakan bulan yang mulia, tapi sesungguhnya karena apa yang telah dikerjakan, sebab semua ibadah dan ritual-ritual kebaikan, baik itu puasa, tadarrus dan tilawah, taraweh serta sedekah itu tujuannya hanya satu, yakni agar kita menjadi hamba yang bertaqwa. Sebagaimana Allah firmankan dalam setiap ayat-ayat Al-Quran tentang anjuran beribadah, diakhir kalimat ayat pasti diakhiri dengan kata;

La’allakum tattaquun (agar kalian semua bertaqwa).

Teman-teman, saya berharap semoga ramadhan kali ini tetap membawa berkah kebaikan untuk kita semua. Saya juga berharap semoga dengan kemuliaan ramadhan ini kita bisa semakin bertaqwa, semakin beriman serta semakin dekat dengan ridho Allah. Selanjutnya saya sampaikan bahwa dengan menyampaikan ini semua, sungguh sama sekali tidak ada maksud saya untuk menggurui. Lebih tepatnya mungkin sebagai nasehat saja, sebab bukankah Islam itu adalah agama nasehat? Minimal, semua yang saya tulis disini akan menjadi nasehat bagi diri saya sendiri yang terlalu lalai menjalankan amal-amal kebaikan.

Demikian kiranya yang dapat saya sampaikan untuk pagi ini, semoga bermanfaat dan bernilai ibadah untuk kita semua. Saya yang sangat faqir ilmu ini mohon maaf atas segala sesuatu yang tidak berkenan di hari teman-teman semua. Salam santun dari sahabatmu, Djie. 🙂

 

Iklan