Mimpi itu adalah kembang tidur, begitu kartanya. Yang namanya kembang, ada yang gugur dan ada juga yang bertahan hingga menjadi buah. Demikian juga dengan mimpi ada yang menjadi kenyataan dan juga ada yang menguap, berlalu dengan seiring lipatan waktu.

Bermimpi itu sudah sering kali aku alami ketika tidur, dan teramat jarang aku memikirkannya, bahkan hampir tidak pernah rasanya. Tapi ini beda, entah kenapa setelah bangun tidur tadi, aku langsung kepikiran dengan mimpi ini. Seakan-akan menyimpan pesan tersirat terkait beberapa hal dalam kehidupanku. Kalau yang ini rahasia dong. 🙂

Bermula dari rutinitas kegiatanku. Sudah setahun lebih lamanya, aku mengikuti kajian keagamaan di majlis dzikir malam senin bersama KH. Musleh Adnan. Jadi setiap malam senin para jama’ah beserta saya di dalamnya, menghadiri rumah beliah untuk mendapatkan percikan cahaya dari ilmu beliau. Sama seperti biasanya, tadi malam saya juga hadir pada acara rutin tersebut. Kebetulan tadi malam merupakan malam keenam belas dari bulan ramdhan. Jadi kajiannya membahas tentang Al-Quran, dimana pada malam 17 nanti merupakan malam Nuzulul Quran yang bagi ummat islam ini termasuk salah satu peristiwa bersejarah yang hampir keseluruhan ummat islam ini mengetahuinya.

Singkat cerita, ketika sang guru menjelaskan tentang Al-Quran yang secara spesifik beliau sedikit mengupas beberapa ayat, kemudian beliau sedikit sampaikan maksud dari penafsiran ayat tersebut. Salah satunya adalah:

ch33_56

Dari ayat tersebut dijelaskan, setelah kata “Wa malaaikatahuu” menggunakan kata “yusholluna” yang berupa fi’il mudhori’ (menunjukkan pekerjaan yang akan datang), padahal itu sepantasnya lebih pas ditempati fi’il madhi (menunjukkan perkerjaan yang suda selesai). Menurut ulama’ bata beliau semalam, bila ada fi’il mudhori’ menempati tempatnya fi’il madhi maka pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang. Bisa difahami berarti Allah dan malaikat itu tidak hanya waktu dulu saja yang baca sholawat terhadap nabi, bisa saja hari ini dan seterusnya hal itu masih dilakukan. Jika Allah dan malaikat saja seperti itu, lantas dimana tempat kita yang lalai baca sholawat ini kira-kira nanti? Mengakhiri penjelasan tentang gramatika ayat ini belau tersenyum dengan khasnya. Sangat mengagumkan! 🙂

Selanjutnya, setelah kata “Aamanuu” ada kata “Sholluuu”, mengapa tidak “Shollu sholatan” padahal dibelakang menggunakan “Wa sallimuu tasliimaa”. Ternyata hal ini bukan karena apa, bukan karena Allah lupa, bukan!! Allah mustahil lupa. Setelah dijelaskan, ternyata selama ini kita sering kali lupa untuk mohon keselamatan, terbukti ketika kita baca sholawat yang lumrah kita ucapkan hanya “Allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammad” tanpa melanjutkan dengan kalimat “wasallim ‘alaa sayyidina muhammad“.

Kembali pada mimpi, semalam saya bermimpi ikut kajian private kepada sang guru berdua dengan seorang teman namun saya tidak tahu teman yang bersama saya itu. Yang saya ingat kajian itu membahas tentang keagamaan masalah ibadah, namun anehnya di akhir mimpi saya diuji tentang ilmu nahwu. Ada yang aneh rasanya, dalam perasaan saya kami belajar itu tempatnya persis di tempat saya tidur, persis di ranjang saya tidur semalam tapi terkesan seperti masjid megah. Kembali pada soal, setelah hendak menjawab soal ujian itu akhirnya tiba waktu sholat, entah sholat apa, kalau dalam perasaanku waktu itu sholat ashar. Ahirnya kami bertiga keluar, dan betapa terkejutnya saya ketika keluar dari rumah, ternyata halamam rumah saya itu di daerah Mojokerto yang mana di halaman saya itu terdapat taman berupa kolam luas yang dipinggirannya banyak orang berwudhu’. Lho, bagaimana bisa??!!! Bagian dalam rumah saya di Pamekasan, Madura. Dan halaman rumah saya di Mojokerto, Jawa. Terus terang aku kebingungan, dalam kebingungan itu aku terbangun.

Dan aku tuliskan semuanya disini, untuk menyapa teman-teman di hari yang sangat membahagiakan ini. Salam santun, Djie. 🙂

Iklan