Fiksi adalah bagian dari sub bab dalam pelajaran bahsa dan sastra Indonesia yang di dalamnya mempelajari tentang karya tulis tidak sesuai dengan fakta atau yang bersifat imajinatif, itu pemahamanku. Bagaimana menurut teman-teman?

Berawal di tahun 2009. Waktu itu saya ikut LMCP (Lomba Membuat Cerita Pendek) yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) Pamekasan. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang organisasi ini, namun setelah saya lihat ada pengumuman lomba di mading sekolah, akhirnya saya ikut.

Singkat cerita, pada tahun 2010 atau setahun setelah lomba itu, saya (yang notabene memiliki kegemaran surat-menyurat) mencoba menghubungi ketua FLP Pamekasan via SMS dengan maksud ingin mengetahu lebih jauh tentang oraganisasi itu. Hingga akhirnya saya kenal dan diundang buber (kebetulan bulan ramadhan) dengan anggota FLP lainnya. Setelah itu, entah bagaimana caranya tiba-tiba saya sudah tercatat sebagai anggota FLP padahal saya tidak merasa mendaftar. Sebab untuk mendaftar langsung ada beberapa pertimbangan bagi saya waktu itu.

Pertama, saya yang tinggal di pesantren, khawatir tidak bisa aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakannya.

Kedua, jika ingin mendaftar harus bayar uang pendaftaran dan menyetorkan karya. Padahal, dulu waktu itu saya yang tinggal di pesantren masih penuh peritungan untuk mengeluarkan uang dengan kepentingan yang belum saya fahami sepenuhnya, sekaligus saya belum bisa berkarya.

Ketiga, saya kurang mendapat restu dari orang tua untuk berkecipung di dunia organisasi, apalagi organisasi luar sekolah, di sekolahpun saya tidak diperkenankan.

Sebagai anggota, saya selalu diberikan informasi mengenai acara-acara besar yang setiap tahunnya diadakan oleh FLP, seperti halnya Seminar dan Bedah Buku.

Dan yang mengesankan disini bagi saya adalah, saya yang sebagai anggota tidak pernah dikenakan biaya administrasi acara, atau katakanlah uang pendaftaran, padahal meski sebagai anggota saya tidak pernah aktif pada acara-acara mingguan, yakni apresiasi karya.  Dengan alasan saya ada di pesantren yang tidak mungkin saya pamit setiap minggu pergi ke RC atau yang disebut Rumah CaHayA (membaca dan menghasilkan karya)  yang jaraknya kira-kira 20 km dari pesantren tempat saya belajar. Meski tidak dikenakan biaya administrasi, saya tahu diri, ketika saya hendak menghadiri acara itu, saya mencari peserta untuk menghadiri acara tersebut.

Pernah suatu ketika ada acara bedah buku karya bunda Sinta Yudisia  yang berjudul The Road to The Empire di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan. Saat itu saya membawa 31 peserta atau 32 dengan saya. Hal itu cukup membahagiakan bagi panitia yang lain, sebab jika uang pendaftarannya Rp. 15.000 (saya lupa berapa pastinya, habis saya tidak dikenakan uang pendaftaran sih 😀 ). Kan panitia tinggal mengkalikan biaya dengan 31 peserta, kira-kira 450 ribuan lah.

“Ternyata, dik Djie ini benar-benar berperan ya meskipun ndak pernah tampil”, sambut teman-teman panitia senior waktu itu.

Demikianlah mungkin asal mula pudarnya pesona Matematika hingga saya jiwa saya tertaut Fiksi sampai sekarang. Bukan karena apa, sebab fiksi itu lebih fleksible rasanya. Dunia fiksi bisa menyentuh segalanya, sesuai kreatifitas yang diciptakan dalam bergulat dengan fiksi. Beda dengan matematika yang tidak bisa menyentuh hatinya anak-anak IPS (sebagaimana cerita disini) 😀 hehe *just kidding 😉

Dan waktu telah mengantarkan banyak hal dalam kehidupan saya, hingga semuanya mampu berbicara dalam ruang kesunyian dan kebisuan termahya, di hadapan saya disampaikan, dideklamasikan lalu diresmikan sebagai motif paling bahagia yang saya rasa.  Beginilah fiksi menderma batin saya, dalam potret ruang dan waktu penuh suka cita. 🙂

 

 

 

 

 

Iklan