Cerita singkat tentang peristiwa baru-baru ini. Dimulai dari kemarin sore menjelang ashar, saya hendak ke rumah teman. Dia adalah teman sekaligus bos ku, namanya Agus Syahbana. Dia bos yang baik, baik banget malah. Soalnya kalo ngasih HR (honor, red) selalu ada lebihnya dan lumayan jumlahnya. 🙂

Sebelumnya saya akan sampaikan sedikit tentang dia. Dia adalah salah satu karyawan pada salah satu kantor notaris di Pamekasan. Tugasnya agak relatif banyak, oleh sebab itu beberapa tugas diberikan kepada teman-teman yang membutuhkan penghasilan, dan salah satunya saya.

Berawal dari HP, selain pegawai di kantor notaris, dia juga suka dagangan HP dan waktu itu saya sama dia ada connecting di dunia tersebut hingga pernah tukaran LG-GD510 (punyaku) dengan SAMSUNG Ace Plus FullCopy (punya dia), aku nambah 100 ribu. Iseng-iseng aku nanya kerjaan dan jadilah aku sebagai tukang ketik berkas ADIRA untuk Perjanjian Fidusia.

Apa itu Perjanjian Fidusia? Adalah perjanjian hutang piutang kreditor yang melibatkan penjaminan. Jaminan tersebut kedudukannya masih dalam penguasaan pemilik jaminan. Yah, demikianlah kira-kira. 🙂

Kembali ke waktu kemarin sore, ketika hendak berangkat. Ternyata ban depan motor saya kempes. Walhasil, jadi sedikit bingung soalnya sudah janji mau nganterin berkas yang sudah selesai diketik. Akhirnya saya duduk sejenak, meredam emosi yang hampir muncrat 😀 dan teringatla saya bahwa baru saja ada kakak sepupu yang nelfon saya, dia nanya HP SAMSUNG yang ber-OS Android, katanya mau beli dia. Tanpa pikir panjang saya telfon balik dia dan nanya sedang di rumah utara (rumah aslinya yang dengan dengan rumah saya) apa di rumah selatan (rumah istrinya di kota yang sekarang di tempat tinggali), haha ribet amat nih bahasa 😀

Saya pinjam motornya dan selesailah masalah pertama. Alhamdulillah semua urusan lancar hingga saya pulang kembali dan melaksanakan aktivitas di rumah sebagaimana biasanya. 🙂

Setelah itu tinggal motor saya yang kempes nih, rencanya pagi ini saya hendak ke bengkel untuk ditambal bannya yang kempes. Berkaitan dengan rencana tersebut, tadi jam 02.30an ada telfon masuk. Waktu itu saya masih bobok, maklum kecapean karena kemarin malam begadang karena suatu pekerjaan. Untuk panggilan kedua kalinya, saya dengar bunyi khas ponsel saya. Saya lihat ternyata di layar ada tulisan KH. Arif Asroruddin Memanggil… diangkatlah telfon itu dan diterimalah perintah sang guru.

Yah, saya diminta oleh beliau untuk menjemput putranya ke terminal yang sedang perjalanan pulang dari Banyuwangi bersama salah seorang tetanggal. Singkat cerita, saya berangkat dari ndalem (sebutan untuk rumah guru) ke terminal pada jam 02.58 dan nyampe kembali jam 03.26. Lumayan cepet karena di jalanan sepi dan kecepatannya lumayan untuk jarak sekitar 12 kilometer pulang pergi.

Kemudian beliau meminta kami, saya dan tetangga saya itu makan sahur disana (rumah guru), permintaan ini bersifat mutlak adanya karena permintaan ini tidak menyediakan layanan jawaban TIDAK, akhirnya dengan segala ketidak berdayaan makanlah kami disana. Alhamdulillah, lumayan untuk mengkodo semalam pikir saya. Sebab, biasanya kan saya jarang dan hampir tidak pernah makan sahur, paling hanya minum satu gelas cukup. Tapi sebelum tidur biasanya saya makan sebagai tindakan antisipasi karena selain buka puasanya saya tidak banyak biar kuat sholat tarawehnya, saya juga sering merasa malas untuk makan di waktu sebelum fajar.

Selanjutnya, tidak selesai di makan sahur. Ternyata kami masih dikasih uang. Waduh, benar-benar gak enak nih, tapi Alhamdulillah deh. Tidak enaknya kenapa? Secara beliau ada guru, guru bagi saya sekaligus semua orang di kampung saya, sudah nolak sebanarnya tadi, tapi apalah daya saya yang sebagai murid, sekreatif-kreatifnya saya menolak, beliau tetap maksa. Mungkin karena sama Allah sudah terlanjut beliau menjadi perantara rizki untuk saya :D. Dan Alhamdulillahnya, uang ini benar-benar dibutuhkan khususnya saya, paling tidak untuk tambal ban ntar pagi 😀 Alhamdulillah, bangun tidur ada yang ngasi fulus. Mungkin ini ya yang namanya Rizki Minallah yang sifatnya Min Haitsu La Yahtasib (tidak disangka-sangka). 🙂

Dan tiba-tiba saya langsung ingat ayat ini: …Man yattaqillâha yaj’allahû mahrajan. Wa yarzuqhu min haitsu lâ yahtasib… yang artinya “…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At Thalâq 2-3). 🙂

Iklan