Hidup itu adalah hari ini dan masa depan, demikianlah katanya. Karena hari kemarin sudah menjadi debu sebab terbakar waktu, dan kita menyebutnya sebagai masa lalu. Kita sudah memahami bahwa masa lalu tetaplah akan seperti itu, tiada yang bisa merubah atau memodifikasi sedikitpun akan masa lalu. Masa lalu tidak perlu dipikirkan apalagi dipermasalahkan, sebab masa lalu adalah serangkaian proses untuk menuju hari ini dan masa depan.

Seperti (sudah diketahui) kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Dulu, ketika masih SD mungkin oleh guru kita ditanyakan keinginan masa depan atau cita-cita kita, saya yang tidak pernah benar-benar faham akan profesi dimasa depan, dengan spontan saya katakan “Saya ingin jadi dokter!!” ketika ada yang menanyakan tentang cita-cita saya. Bukan karena apa, sebab dalam fikiran saya dokter adalah orang terhormat, ucapannya selalu diikuti oleh setiap orang yang berobat kepadanya. Dokter juga berpenampilan berbeda dengan pakaian khas nya yang putih, rapi dan bersih, demikianlah saya berpikir.

Selain itu, dokter punya kemampuan magic menurut saya waktu itu, sebab setiap saya sakit dan diobati dokter selalu saya cepat sembuh. Kebetulan, setiap ujian, baik waktu masih caturwulan hingga semester, saya seringkali sakit ketika hendak menghadapi ujian atau sedang melaksanakan ujian. Dan setiap itulah saya dibawa berobat ke dokter. Enaknya jadi dokter, bisa membantu banyak orang yang sakit, begitu pikirku.

Sekarang kok menjadi beda ya? Entah kenapa setelah saya lulus Madrasah Aliyah (setara SMA) saya tidak masuk kedokteran, tapi saya masuk Tehnik Informatika. Alhamdulillah sekarang sudah ada di puncak semester, tinggal nunggu sidang 😀  Mohon doanya yaaa 🙂 Semoga yang mendoakan dimudahkan segala urusan duniawi dan ukhrowinya 🙂

Lha, kenapa masuk Informatika? Entahlah, mungkin didasari oleh hobby. Dulu, saya suka sekali nonton sinetron Lorong Waktu, hampir setiap kali tayang saya nonton hingga hal ini memberikan dampak pada saya. Pertama saya menjadi pengagum sosok Dedi Mizwar hingga sekarang, karena itulah saya selalu senang apabila sosok pak Haji ini tampil di layar, terlebih pada sinetron Kiamat Sudah Dekat. 😀 Kedua, saya jadi ingin seperti Zidan yang bisa kemana-mana tanpa harus berkendaraan. Begitulah saya berpikir dulu 😀

Sehingga, ketika ada barang yang berkaitan dengan komputer dan laptop, saya selalu merasa ingin mengetahui. Bahkan, dulu sebelum saya bisa mengetik cepat seperti sekarang, saya selalu bermain keyboard rusak di LAB Komputer Tsanawiyah untuk dijadikan latihan mengetik. Alhamdulillah sekarang sudah bisa mengetik dengan tanpa melihat tombol keyboard meski tidak dengan 10 jari 🙂

Ketika saya masuk Informatika, saya tidak pernah berpikir akan cita-cita, saya tidak pernah peduli dengan dunia pekerjaan, saya lebih berpikir bagaimana saya menjalani semuanya itu dengan menyenangkan, agar saya bisa bersyukur. 🙂

Saya tidak munafik, saya sama seperti teman-teman yang menginginkan punya pekerjaan enak, dan penghasilan relatif tinggi. Tapi sungguh saya tidak pernah berpikir dan mengejar target-target tertentu dalam masalah profesi, sebab sejak dulu saya merasa dan yakin saya sudah punya tempat meski saya belum pasti mengetahui apa tempat dan job untuk saya di masa depan nanti.

Sekarangpun juga demikian, saya belum berpikir akan kemana dan bagaimana kehidupan saya setelah menjadi sarjana Informatika. Sebab tanpa direncanakanpun saya diperkenankan oleh Allah untuk menyelesaikan kuliah saya dengan jerih payah saya sendiri, orang tua hanya sebagian saja apabila beliau ada untuk diberikan kepada saya. 🙂

Dan, jika terpaksa saya harus menyebutkan harapan saya untuk kehidupan di masa depan, maka satu-satunya harapan saya adalah menjadi ayah terbaik sebagai teladan untuk putra-putri saya kelak. 🙂 Tentunya, menjadi imam yang amanah juga untuk belahan jiwa saya nanti. Mohon doanya untuk semua. 🙂

 

Iklan