Ibadah merupakan bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya yang hal tersebut ada banyak macam dan caranya. Secara garis besar ibadah itu dibagi menjadi dua macam, yakni ibadah wajib (harus dilaksanakan) dan ibadah Sunnah (bersifat opsional). Adapun caranya ituย bisa variatif, contoh dalam hal ini saya sampaikan tentang sholat. Ketika seorang hamba sedang melaksanakan ibadah sholat itu wajib berdiri, karena berdiri itu rukun. Akan tetapi bila tidak mampu, kita boleh duduk, dan apabila tidak mampu boleh berbaring dan seterusnya.

Sebagai seorang hamba, kita harus mengetahui substansi dari ibadah yang kita lakukan (terutama ibadah sunnah), agar kita tidak merasa terpojok dengan kapasitas kita yang notebene ย mungkin saja sebagai orang sibuk di era pasca milenium ini. Selain itu, kita harus pahami bahwa islam itu adalah solusi, maka dari itu kita tidak perlu menjadi rebet dengan segala hal dan atribut di dalamnya.

Mengapa kita harus mengetahui substansi dari sebuah ibadah?

  1. Agar kita menjadi mantap untuk melaksanakannya.
  2. Agar kita tidak salah persepsi, karena setiap ibadah memiliki fadilah tersendiri.

Lalu, mengapa kita harus berkeyakinan bahwa Islam itu solusi Apa hubungannya dengan pelaksanaan ibadah? *Sebelum saya lanjutkan, cobalah pikirkan! Apakah kira-kira hubungannya? ๐Ÿ˜€

Baiklah, saya akan lanjutkan.

Begini, jika kita sudah berpemahaman bahwa Islam itu solusi, maka kita tidak akan pernah merasa terbelenggu dengan keadaan apapun dalam beribadah, terutama ibadah sunnah. Masudnya bagaimana?

Untuk lebih mudah dipahami, saya akan langsung contohkan, dan hal ini merupakan apa yang telah saya lakukan waktu itu. Suatu ketika saya hendak pulang, kebetulan waktu itu mendekati waktu adzan maghrib. Saya lupa tidak melihat jam setelah agak lama saya menunggu angkot, saya tidak sadar bahwa saya sudah lebih setengah jam menunggu. Setela ada angkot, saya menyetop dan menaikinya, baru naik angkot ternyata adzan maghrib dikumandangkan. Saya bingung, khawatir setelah saya nyampe nanti waktu maghrib sudah tidak ada. Akhirnya, saya putuskan sholat di dalam angkot dengan posisi duduk di kursi. Sebelum saya takbir, saya pastikan angkot melaju ke arahย yang menjadikan saya menghadap kiblat. Setelah saya pastikan diri saya sudah menghadap kiblat, saya buru-buru takbir dan setelah takbir saya tidak peduli angkot mau belok ke arah mana, akhirnya sholatlah saya dengan isyarat hati dan bacaan biasa sebagaimana kemampuan dan yang saya bisa.

Itu barusan contoh ibadah yang wajib,ย lalu bagaimana dengan ibadah sunnah? Nah,, apalagi yang sunnah. Mengerjakannya aja bebas (mengerjakan bagus, tidak mengerjakan tidak masalah), apalagi ‘cara’ dalam mengerjakannya. Setuju ndak? Yang tidak setuju, saya tetap menghargai demokrasi ๐Ÿ˜€ hehe.

Tulisan ini saya buat, sebagai bentuk respon silaturrahim untuk sahabat blogger yang berpemahaman iktikaf harus menginap di masjid pada malam harinya. Padahal sesungguhnya tidak perlu, sebab bila kita berpemahaman iktikaf itu harusย menginap berarti ikhtikaf itu berketentuan, padahal iktikaf kan ibadah sunnah. ๐Ÿ™‚

Jadi, kalau boleh saya simpulkan bahwa setiap ibadah sunah itu tidak berketentuan, dalam hal ini kita harus berikan catatan untuk kata “berketentuan”. Catatannya adalah ketentuan yang saya maksud disini tetap harus mengikuti aturan main dari jenis ibadahnya. Contoh nih, puasa sunnah. Adapun ibadah sunnah yang lainnya seperti sedekah misalkan, itu tidak berketentuan waktunya, tidak berketentuan jumlahnya, tidak berketentuan jenisnya dan tidak berketentuan kepada siapa. Akan tetapi diutamakan kepada fakir miskin, namun andai saja sedekah kepada orang kaya tidak masalah kok. ๐Ÿ™‚

Demikianlah sekilas yang dapat saya tuliskanย pada kesempatan kali ini, kiranya atas segala hal yang tidak berkenan, maafkanlah! Tidak lupa jua saya ucapkan selamat hari kemenangan untuk muslim yang merayakannya. ๐Ÿ˜‰

Iklan