Ramadlan telah berlalu, berharap kita masih tetap berada dalam semerbak keberkahannya sehingga kita terus bisa meningkatkan kualitas diri baik secara lahir maupun bathin. Puasa adalah ibadah istimewa yang disyariatkan untuk hamba-hamba pilihan. Sebagaimana sudah jelas disampaikan dalam Al-Quran bahwa hanya orang-orang yang beriman saja yang diseru untuk melaksanakan ritual istimewa ini.

Mengapa saya katakan puasa itu ritual istimewa? Sebab ibadah yang satu ini hanya milik Allah, dan hanya Allah yang mengetahuinya, oleh sebab itu Allah lah yang akan membalasnya kelak. Sebagaimana pernyataan Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya:

Segala amal ibadah anak Adam adalah baginya, kecuali puasa adalah bagiku, dan Aku lah akan membalasnya.

Dari statement tersebut, saya berpemahaman bahwa bisa jadi pahala puasa itu tanpa batas. Lha, kok bisa? Sebab kekuasaan dan kekayaan Allah itu tanpa batas. Meski kita berdoa, meminta terus menerus. Kepunyaan Allah tidak akan pernah habis. Dan karena dalam hadits qudsi tersebut dikatakan bahwa Allah yang akan membalasnya, maka sah-sah saja bila Allah berkehendak memberikan segalanya (yang tak terbatas dari kepemilikanNya), toh sudah kita ketahui bahwa kepemilikan Allah itu tidak pernah habis. 🙂 Okee, sekilas itu saja pemahaman dan nalar saya tentang puasa.

Selanjutnya, karena kita memasuki bulan Syawal nih, dan barangkali sebagian teman-teman ada yang sedang melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal. Saya sedikit akan menyampaikan beberapa hal yang saya ketahui. Kendatipun hal ini tidak banyak, dan saya berharap semoga ada hikmahnya. Paling tidak bagi saya sendiri yang menuliskannya disini agar tetap ingat dengan pengetahuan yang tidak seberapa ini.

Berbicara tentang puasa sunnah di bulan Syawwal, ada baiknya mungkin jika saya sampaikan sabda nabi yang mungkin saja teman-teman sudah banyak mengetahui karena memang sabda ini telah masyhur di telinga-telinga ummat muslim yang bunyinya sebagai berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya:

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadlan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.” (HSR Muslim [no. 1164] )

Nah, kalau kita mendengar bunyi hadits tersebut, sepertinya cukup menggiurkan banget tuh pahalanya. Betapa tidak, rasa-rasanya sulit bagi kita, terutama saya yang sangat amat nakal ibadahnya untuk melaksanakan puasa selama satu tahun penuh. Toh andai saja kita sanggup, tentu kita tidak akan pernah bisa melaksanakan puasa selama satu tahun penuh, sebab dalam satu tahun masih ada hari-hari yang di haramkan. Seperti hari raya dan hari tasyrik misalkan. Dan enam hari di bulan Syawwal ini merupakan alternatif bagi kita yang memiliki keinginan kuat untuk meraihnya. 🙂

Namun perlu kita sadari, khususnya saya pribadi bahwa setiap ritual penghambaan itu harus berkarakteristik dan jelas. Berkarakteristik maksudnya ialah kita harus memahami porsi dari ibadah tersebut, termsuk wajib apakah sunnah? Sebab apabila kita tidak bisa membedakan hal ini, cenderung ritual kita cacat bahkan tidak bernilai.

Lalu saya katakan juga harus jelas, nah disini kita bicara maksud dari ritual kita. Atau kita telah menyebutnya dengan niat. Nah, niat disini harus jelas dan sebisa mungkin kita berusaha memperbaiki niat dari ritual penghambaan kita. Sebab, kalau boleh saya katakan, niat itu sopirnya ibadah. Kemanapun niat itu menuju, maka kesana jualah ibadah kita akan disampaikan. Sebagaimana sabda nabi:

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Sengaja saya bedakan warnanya karena yang berwarna biru ini merupakan inti dari sabda tersebut, dan setelah itu penjelasannya. Kiranya demikianlah kapasistas pemahaman saya tentang hal ini, saya berharap bisa bermanfaat dan bernilai ibadah, meski pada dasarnya apa yang saya sampaikan ini tidak seberapa dibandingkan dengan pemahaman teman-teman. 🙂

Iklan