Alhamdulillah, baru nyampek rumah nih. Langsung buka blog dan ngepost ini. Adalah coretan tentang suatu hal yang baru saya alami. Nah, mungkin sebelumnya saya cerita dulu kali yaa. 😀 Tadi pagi saya menghadiri kondangan Walimatul ‘Ursy di salah satu tetangga tidak jauh dari rumah, tapi kondangannya bukan atas nama pribadi. Akan tetapi saya diundang secara massal, atas nama lembaga tempat saya membantu menemani adek-adek TPA belajar. 🙂

Terkesan istimewa rasanya ketika saya masuk tadi pas salaman kemudian diselipin rokok Surya 12 oleh Shohibul Hajah. Saya bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah dalam hati meski saya tidak merokok, sebab bagaimanapun bila dipandang dari sisi Shohibul Hajah tetaplah upaya dan bentuk penghormatan dalam bentuk persembahan kepada undangan, termasuk saya. Namun bila dipandang dari sisi saya secara langsung, rasa-rasanya rokok kurang berarti bagi saya sebab saya tidak merokok. Namun bila dipandang dari sisi saya secara tidak langsung, rokok tetaplah berarti bagi saya meskipun saya bukanlah perokok aktif.

Bagaimana cara saya menjadikan rokok yang sekilas tidak saya butuhkan namun bisa menjadi penting pada akhirnya? Dalam hal ini ada dua alternatif yang dapat saya lakukan.

Pertama, diberikan kepada famili atau kerabat lainnya yang merokok sebagai bentuk tali kasih atau terima kasih kepada yang telah pernah membantu kepentingan dan keperluan saya namun tidak sempat saya balas atau tidak mau saya balas jasanya dengan uang.

Kedua, dijual dengan harga lebih murah dr toko sehingga uangnya bisa saya jadikan untuk membeli bensin, kan lumayan tuh. 😀 hehehe

Baiklah, terkait dengan judul tulisan kali ini. Sebenarnya saya ingin menyampaikan hal yang insya’Allah lebih penting dari cerita di atas. Ialah tentang pitutur saat serah terima dari pimpinan rombongan pengantin laki-laki yang kemudian dilanjutkan oleh perwakilan dari Shohibul hajah atau wali dari pengantin perempuan yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mujtama’ Plakpak Pegantenan Pamekasan. Beliau adalah KH Abd Gafur Safiuddin,Lc.

KH Abd Gafur Safiuddin,Lc menyampaikan bahwa dalam pernikah biasanya orang-orang (terutama yang muda-mudi) mencari yang serasi atau katakanlah yang sama dalam beberapa atau banyak hal dari keduanya. Namun sebenarnya serasi itu tidaklah terlalu penting sebenarnya sebab dalam kenyataannya hal tersebut tidak menjamin suatu ikatan menjadi abadi di dunia hingga ke akhirat kelak.

Beda halnya dengan yang serasa, mereka akan saling mengetahui dan saling mengerti terhadap apa yang tekah dirasakan oleh pasangannya. Oleh sebab itu mereka akan saling menjadikan dirinya sebagai penyempurna bagi yang lain apabila ditemukan hal yang kurang dan akan saling mengapresiasi bila ternyata didapatkan suatu hal yang membahagiakan dan membanggakan diantara keduanya.

Dicontohkan juga dengan pasangan antara Rasulullah dengan Siti Khodijah yang kemudian antara Rasulullah dengan Siti Aisyah. Beliau tidak pernah serasi dengan kedua istri beliau yang tersebut sebab rentang usia antara ketiganya terpaut cukup jauh, atau dengan istri yang lainnya yang semuanya janda. Namun diantara beliau dengan istri-istri beliau telah serasa (satu rasa), yakni rasa takwa kepada Allah SWT.

Sekilas demikian saja yang hendak saya sampaikan untuk kesempatan berbagi kali ini. Semoga ada hikmah dan manfaatnya bagi kita semua terutama bagi saya pribadi. Oh iya, perlu saya sampaikan juga bahwa hal di atas tidak sama persis dengan apa yang telah disampaikan oleh KH Abd Gafur Safiuddin,Lc. Akan tetapi disini saya menyampaikan kembali dengan bahasa saya sendiri serta sesuai dengan kemampuan daya tangkap saya untuk merekam apa yang telah disampaikan beliau. Salam! 🙂

Iklan