Adalah hal yang lumrah mungkin ketika seorang atasan memerintahkan dengan pernyataan tanpa penawaran. Namun tentu saja hal itu kurang baik rasanya menurut saya. Saya memberikan pernyataan seperti ini karena saya sudah berkali-kali mengalami hal yang serupa, dan setiap itulah saya merasa nggeh dengan hal itu. Kok bisa? Pikir aja sendiri deh. 😀

Okee, dalam kesempatan kali ini saya hanya ingin berbagi saja. Sepenggal dari apa yang saya alami. Tidak lama ini ada peristiwa sederhana terjadi pada saya, namun meski peristiwa sederhana semoga dan insya’Allah bermanfaat, paling tidak untuk saya sendiri. Begini, ada seseorang yang mengirim SMS kepada saya dengan nada memerintah, pantas dia memang atasan saya. SMS nya kira-kira begini:

“Dek, jadwal yang tahun kemarin di ganti waktunya. Untuk mata pelajaran dan guru-gurunya tetapkan saja untuk sementara dan besok bawa ke kantor.”

Menerima dan membaca pesan ini sekilas sah-sah saja itu terjadi pada saya. Namun ada hal yang kurang pas dengan topik dan cara komunikasinya itu saya rasa. Betapa tidak, sudah bukan rahasia kalau saya sekarang juga punya kepentingan. Saya harus menyelesaikan laporan TA saya, saya ingin cepet sidang, lulus kemudian wisuda. Lha, ini tiba-tiba ditengah kesibukan saya yang penuh perjuangan ini langsung meluncurkan perintah tanpa penawaran.

Sekali lagi, pesan di atas tidak salah. Namun akan sangat bijak bila bahasanya diganti dengan bahasa yang lebih menyejukkan. Hitung-hitung menurunkan suhu otakku yang akhir-akhir ini diperah habis-habisan. Saya contohkan kalimatnya mungkin seperti berikut:

“Dik, kamu sibuk apa nih? Bisa ndak kalau saya minta jadwal tahun ajaran kemarin direvisi jamnya? Kalau bisa besok saya lihat hasilnya di kantor yaa!”

Nah, dengan bahasa yang demikian kan lumayan. Paling tidak dengan menanyakan kesibukan saya sebelumnya, saya merasa ada yang hendak perhatian dengan saya. Bukan karena saya gila perhatian ya, tapi adalah hal wajar jiwa bawahan seperti saya yang setiap kali berpikir tentang kerjaan selalu berpikir tentang pribadinya. Masak yang bawahan ndak dipikirin?

Contoh nih, ketika seorang bawahan hendak minta tanda tangan kepada atasan. Bawahan mesti mikir dulu, atasan sibuk ndak ya. Kira-kira sempat ndak ya ketemu saya dan seterusnya. Lha, yang atasan masak ndak mau tuh sedikit rendah hati untuk sekali-kali berpikir tentang masalah dan persoalan bawahan?

Mengingat hal ini saya berkometmen jika kelak saya menjadi atasan, saya akan berusaha respek dengan masalah dan persoalan bawahan saya. Saya ingin menjadi satu jiwa dengan mereka agar saya bersama mereka menjadi pribadi yang saling mengapresiasi terhadap satu sama lain.

Demikianlah teman-teman. Ini sepenggal persoalan tentang saya sebagai bawahan. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya sampaikan tentang persoalan serupa namun beda perstiwa. Semoga saya diberikan kesempatan untuk berbagi kembali di lain kesempatan. Salam! 🙂

Iklan