Sebuah kisah. Terjadi beberapa tahun yang lalu, entah hari apa dan tanggal berapa, aku mengenal seorang akhwat di telephone, yang katanya sudah sangat lama mengenalku. Tapi aku tidak tahu dan tidak pernah mengenal dia sebelumnya, hingga sekarangpun aku belum tahu seperti apa perawakannya, aku hanya bisa mereka-reka bagaimana bentuk paras wajahnya. Namun aku tidak bisa memastikan secara pasti karya Sang Maha Pencipta itu.

Hal yang membuat aku terkesan darinya, dia mengungkapkan isi hatinya dengan puisi yang aku suka membacanya. Setiap saat, ketika aku mengingatnya, puisi itu kubaca dengan nikmat sekali. Tapi sayangnya, aku tidak menyambut ungkapan dalam puisi itu dengan alasan yang sangat privasi, hanya aku dengannya yang tahu, sekaligus Yang Maha Tahu tentunya.

Suatu ketika aku merasa kecewa dengan tindakanku. Dan dengan perlahan aku mulai merasa penasaran dengan pemilik puisi yang aku suka membacanya itu. Aku mulai bertanya-tanya tentangnya, seperti halnya sang pemangsa sedang kelaparan. Tapi sayang, aku tidak bisa berkomunikasi dengannya karena nomor ponselnya aku hapus sebelum rasa kecewa ini menghampiriku..

Lama kian aku menunggu dan terus saja begitu, mencoba menangkap apa yang tak mampu aku terka. Dengan segala daya dan upaya aku berusaha sekreatif mungkin membentuk sketsa paras wajahnya dalam fikiranku, namun tetaplah begitu karena aku memang tidak mampu berbuat apa-apa.

Aku bingung dan jiwaku gelisah, otakku berfikir keras. Kenapa ini bisa terjadi dan mungkinkah cinta itu datang tanpa melalui mata, sedangkan mata itu jendela hati, katanya. Akhirnya aku banyak termenung dan terus berfikir mengapa dan bagaimana semua ini terjadi?!

Allah memang Maha Kuasa, segalanya bisa Dia lakukan sekehendakNya. Tiada yang tidak mungkin bagiNya, semua pasti bisa. Yah.., termasuk kisahku ini, ternyata cinta itu tidak lewat dari jendela, tapi ia masuk dari pintu samping, bukan dari mata kemudian ke hati, tapi dari telinga langsung ke hati, Subhanallah, inilah kuasaNya.

Suatu ketika, Sorayya adekku mengatakan bahwa akhwat itu cantik (itu mah penting bagiku, tapi masih nomor yang ke sekian), baik, ramah dan lain sebagainya. Saat mendengar itu, hatiku bertanya-tanya, seperti apakah orang yang baik, ramah dan cantik itu? Apakah? Atau mungkin? Dan begitu seterusnya dalam fikiranku.

Dan beberapa pekan yang lalu, teman akhwat itu berkisah tentangnya, Putri (dia sebut namanya) itu, orangnya baik, pendiam, ramah, pintar, nyenengin, komunikatif, bla bla bla, n’ yang terakhir nih, dia cantik. Wah, masak iya? Sorai hatiku seraya tak percaya, anehnya dan yang membuat aku tambah penasaran nih, tiap kali orang yang aku minta komentarnya tentang si Putri, mesti ada cantiknya. Benar begitukah? Tanya saja pada orangnya, hehe..2013x!

Waktu terus berputar, menunggu dan terus aku menunggu. Dengan perlahan aku mencoba menata kesabaran, yang memang inilah hal berat yang tak jarang orang mengabaikannya, namun aku tetap sadar dan terus menggiring inginku ke arah rahmat dan ridha Allah menyambut.

Selalu begitu, hingga akhirnya pada suatu pagi HPku berdering, dan kulihat ada satu pesan baru. Awalnya aku malas membukanya, namun aku khawatir pesan itu adalah hal penting yang menghampiriku. Ternyata pesan itu dari temanku yang tak mau dia ceritakan tentangnya. Aku buka pesan itu, dan ..

“ini nomornya putri (081330637244), tapi jangan bilang aku yang ngasih ya”

Ku balas terimakasih untuk sang pengirim dan aku langsung mengirim sms ke nomor yang baru aku dapatkan, “Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam.. kamu siapa?”, balas nomor baru itu.

“Tio, benar ini nomornya putri?”, jawabku balik bertanya.

“Iya, bagaimana kabarmu? Kenapa Pakek 3?”

“Alhamdulillah sehat! Ini khusus buat sms, dan ini (081335343480) nomor simpatiku, khusus buat nelfon. Eh, tadi ada adekku Sorayya sms kamu gak?”

“Gak ada, berapa nomornya?”

“081338503226”

“Gak ada sms, dari tadi cuma sms kamu dan tunanganku”

Seketika itu aku langsung lemas, membaca kata ‘tunanganku’ dalam sms itu, bagai petir menyambar sekujur tubuhku.

“O, ya udah gak usah dibahas, gak penting!”, balasku. Inginnya, aku tidak membalas sms itu, namun aku tetap membalasnya agar dia tak mengetahui perubahan kondisi jiwaku.

“Okeee”, balasnya

Aku terdiam, sepertinya tubuh ini membeku dan terus saja begitu.

“Okeee”, sms itu datang kembali, mungkin dia kira sms yang pertama failed.

Aku tidak menghiraukan sms terakhirnya, aku lemparkan tubuhku di atas ranjang dan kulepas semua penat dalam pikiranku. Aku tidak tahu harus bagaimana, yang jelas jiwaku sedang galau, dan tak mengerti aku dibuatnya. Akhirnya, aku hanya bisa mendesah panjang yang tak lama kemudian terdengar suara adzan dzuhur. Aku bergegas ke air untuk menunaikan panggilan suci itu.

***

Dengan segala ketenangan dalam jiwaku, aku coba membangun semangat baru dalam hidupku, setelah aku merasa terjatuh dari sebuah perjuangan, menurutku. Dan untuk saat yang terakhir kalinya, aku mengirim sms untuk Putri, yang semua itu adalah segala terakhir dariku.

“Assalamualaikum… Maafkan aku, untukmu semoga Allah menganugrahkan rahmatNya selalu. Jujur, kenapa aku ingin mengetahuimu? Karena jiwaku berbicara indah tentangmu, maafkan aku, sekali lagi, maafkan aku.. Oea, jika kau pernah belajar tentang kebaikan, amalkan yang telah kau ketahui, tidak usahlah engkau tahu banyak tentang ilmu, yang penting apa yang engkau tahu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan, jika memang kau tahu kepadaku, semoga Allah menjadikan kita saudara se-muslim yang saling bisa memberi syafaat di hadapanNya kelak. Dan, bila engkau seorang muslimah, jadilah muslimah yang seutuhnya, patuh pada agamanya dan tunduk pada syariat di dalamnya. Dan, jika memang kau telah bertunangan, aku sangat bahagia mendengar itu, semoga Allah menjadikan tunanganmu seorang muslim sejati yang dapat memimpin dan membimbingmu dalam menghamba kepada Allah. Menyelamatkanmu dari segala kegetiran hidup, dan membuatmu merasa aman dalam setiap rasa takut, dan membuat hidup ini selalu menentramkan untukmu hingga kelak kau menghadap Tuhanmu.. Maafkan aku..”

“Maaf, apa kau suka sama aku?”, Tanya Putri setelah membaca sms-ku.

“Maafkan aku..”, balasku.

“Emang kenapa?”, Tanya Putri kembali.

Aku terdiam dan tak mampu rasanya aku menekan tombol-tombol ponselku. Inginnya, pikiranku melamun, tapi aku tak biarkan ia manja, aku tetap tegarkan jiwaku dan terus mendengungkan nama Tuhanku di hatiku

“Tolong jawab sms-ku tadi!”, Putri mengirim sms lagi.

“Sudahlah, gak usah kau fikirkan aku, lupakan saja semua, hapus nomor simpati dan 3ku, aku juga sudah menghapus nomormu di ponselku”

“Emang kenapa harus di hapus?”

Karena komunikasi ini membuat aku sakit Putri! hatiku membatin. Aku diam dan membiarkan sms itu tetap begitu saja. Sejatinya aku ingin bicara banyak untuknya, ada banyak hal yang aku ingin sampaikan kepadanya, tapi membaca sms balasan darinya selalu di hatiku terasa di iris-iris, entah kenapa, yang jelas dia tidak menyakitiku. Tapi aku tersakiti, entah oleh siapa dan siapa yang salah, yang jelas inilah yang aku rasakan.

HPku berdering, satu pesan baru masuk dari Putri;

“Coba ungkapkan isi hatimu padaku!”

Ah, tidak! Kau sudah tidak berhak mendengarnya Putri, aku juga telah tidak berhak menginginkanmu, kau hanyalah sebatas cerita layang-layang dalam inginku. Dan kini layang-layang itu telah pergi karena putus dari benangnya.. aku membatin. Segalanya memang berat sepertinya aku alami, tapi aku tahu, jika memang ini adalah ujian bagiku, aku yakin Allah tidak akan pernah mendzalimi hambaNya, Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya.

Seberat dan sebesar apapun ujian itu menimpa, pasti masih dalam kapasitas kemampuan hambaNya. Aku percaya, hidup itu bukan hanya untuk sekejap, tapi selamanya hingga kita menghadapNya kelak. Hidup ini hanyalah sebuah pembelajaran yang kita akan aplikasikan untuk kehidupan yang sesungguhnya di sana, akhirat.

Kenapa ya? Perempuan cantik cepat punya tunangan,  fikirku. Apakah anda berfikir yang sama?

Iklan