SHDH, adalah singkatan dari Suatu Hari Dalam Hidupku, judul novel yang baru saja saya selesai baca. Nove ini ditulis oleh Abu Umar Basyier, penulis buku-buku Best Seller. Demikianlah tertera di sampul bagian bawah kanan.

Dalam catatan kali ini saya hanya sedikit hendak merespon dari cuplikan cerita di dalamnya, dimana pada halaman 200 atau sebelum dan setelah itu diceritakan bahwa ada seorang perempuan kristen yang bertanya tentang nama nama Tuhan dalam Islam yang dalam cuplikan percakapannya begini:

Dalam kristen, kami menyebut Tuhan kami dengan nama Jesus. Lalu dalam islam apa? Allah itu bukan nama kan? Bukankah dalam kristen kami juga mengenal kata ‘Allah’ meski dengan dialek berbeda. Lalu mendengar nama-nama Allah seperti Al-Qadiir, Yang Maha Kuasa, Al-Hakim, Yang Maha Bijaksana, dalan lain-lain. Apa itu disebut nama? Kalau bukan lalu siapa nama Tuhan dalam Islam?

Pertanyaan di atas sudah dijawab dalam novel tersebut oleh penulis dan itu jawaban versi penuis. Dan disini saya hendak mencoba menyampaikan jawaban dalam versi pembaca.

Bicara tentang nama, sebelumnya kita coba bertanya pada diri kita sendiri. Kira-kira kenapa sesuatu (apapun itu) diberi nama? Dan apa kira-kira fungsi atau manfaat ketika nama itu disebut?

Saya contohnya dengan sebuah benda, katakanlah itu buku. Ketika kita mengatakan buku, tentu otak kita atau apapun yang bisa merespon dari perkataan kita akan tertuju pada lembaran-lembaran yang disatukan dan bisa dibaca ataupun ditulis (untuk buku tulis). Demikian juga misalkan dengan orang, saya contohkan dengan nama presiden kita sekarang. Ketika kita mengatakan SBY, secara umum untuk saat ini di tahun 2014 bagi semua yang bisa merespon perkataan kita itu pasti tertuju pada seorang yang agak gemuk, tegap orangnya dan sedang berada di posisi nomor satu di negeri ini. Yah demikianlah sekilas analogi saya mengenai nama.

Demikian juga dengan Tuhan, kita tahu bahwa ketika kita mengatakan ‘Allah’ sudah jelas dan pasti bahwa respon yang akan dihasilkan pasti tertuju pana Tuhan dalam agama Islam, demikian juga dengan nama-nama lainnya yang dapat kita temukan pada sampul bagian dalam Al-Quran atau yang kita sebut dengan asmaul husna.

Selanjutnya saya akan bicara berdasarkan data, kita tahu dalam basmalah disebutkan juga nama Allah yang mana makna dari basmalah sendiri adalah, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang‘. Demikianlah kira-kira makna basmalah yang saya pahami.

Dari lafadz basmalah tersebut sudah jelas bahwa ‘Allah’ itu adalah nama berdasarkan kalimat ‘Dengan nama Allah…‘ dan disini menunjukkan nama Tuhan dalam Islam, sebab basmalah sendiri adalah kalimat agung dalam agama kita, Islam tentunya. 🙂

Selanjutnya, masih berdasarkan data dan kali ini lebih gamblang rasanya, sebab dalam kalimat ini secara jelas disebutkan bahwa ‘Allah’ itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Mari kita perhatikan potongan ayat dari surat An-Nisaa’ aya 171 berikut:

AllahSengaja saya tidak memotong (Crop) gambar hasil printscreen tersebut agar ketahuan sumbernya langsung dengan melihat address bar (alamat websitenya). Perhatikan kalimat yang saya blok pada gambar ayat di atas. Innamaa Allaahu ilaahun waahidun, yang artinya ‘sesungguhnya Allah (itu adalah) Tuhan Yang Maha Esa’. Pemaknaan yang saya tulis ini memang berbeda dengan makna yang dapat dilihat pada gambar, dimana saya menambah kata ‘itu adalah’ dalam tanda kurung sebab hal itu dimaksudkan sebagai petunjuk bahwa nama Allah itu khusus tertuju pada Tuhan kita yang beragama islam. Dimana lafadz Allah sendiri juga tertulis dalam bentuk makrifat yang ditandai dengan adanya ‘Al’. Dalam ilmu nahwu makrifat artinya khusus sedangkan nakirah  artinya umum, demikianlah sekilas yang saya fahami.

Innamaa Allaahu ilaahun waahidun, di sini sudah jelas bahwa Allah itu ilaahun (Tuhan) waahidun (Yang Maha Esa). Pernyataan ini berdasarkan jawaban salah seorang ulama’ di Madura yang pernah menulis kitab tentang persoalan seputar hal-hal yang sering ditanyakan oleh masyarakat awam di Madura. Ditulis dalam bahawa madura dan kebetulah masalah yang serupa dibahas dengan jelas di dalamnya.

Demikianlah sekilas catatan sederhana ini, semoga ada manfaatnya dan bernilai ibadah guna menjadi investasi kelak kitika kita pulang ke tempat yang telah ditentukan. Salam santun, Djie. 🙂

Iklan