Kembali saya sampaikan bahwa SHDH adalah singkatan dari sebuah judul Novel yang baru beberapa hari saya selesaikan bacaannya. Kemarin saya sudah pernah menulis hal yang sama di sini jalan masuknya bagi yang berkenan membaca. Hanya saja temanya berbeda. Bila kemarin adalah berupa respon terhadap pertanyaan dalam sebuah alur cerita, kali ini saya sekedar ingin mengucapkan terima kasih atas suatu pembenaran yang selama ini saya pernah atau mungkin telah sering saya alami.

Sebelumnya saya akan sedikit bercerita tentang suatu hal yang sering terjadi pada saya. Nah, kali ini berbahagialah kalian yang suka ngeghibah (ngegosip) 😀 sebab kali ini ada gosip gratis dan dijamin tidak dosa, sebab saya tidak menyampaikan yang ada pada diri orang lain, tapi saya menyampaikan apa yang ada pada diri saya sendiri. Dan saya menyampaikan ini dengan tulus tanpa paksaan atau tekanan apapun 🙂

Tentang saya, yang sebagian saja yaaa!! Katanya, dari sebuah penuturan beberapa orang teman. Saya itu orangnya perfeksionis, sebelumnya saya tidak mengerti apa itu yang namanya perfeksionis, tapi setelah ada yang mengatakan saya adalah orang yang bertipe seperti itu saya mulai tahu dan sedikit mencari tahu lebih jauh tentang perfeksionis tersebut.

Saya juga tidak faham bagaimana teman saya bisa menebaknya, yang jelas saya ingat salah satu dari mereka mengatakan saya seperti itu dengan melihat (baca: mendengarkan) gaya bicara saya di telepone, dan tiba-tiba dia bilang ‘kamu tuh orangnya perfeksionis ya?’. Saya yang belum mengerti waktu itu tanya apa dan bagaimana itu maksudnya, akhirnya dijelaskanlah sekilas olehnya.

Kemudian ada salah seorang teman yang pernah bilang bahwa di bisa membaca karakter seseorang melalui tulisannya. Akhirnya saya minta ditebakkan dengan terlebih dahulu saya diminta untuk menulis di sebuah kertas kosong. Tidak lama kemudian, setelah dia perhatikan gaya tulisan saya yang miring bersambung dan sesekali kata-katanya ada yang terputus, dia bilang bahwa saya itu katanya perfeksionis.

Lalu apa itu perfeksionis? Secara sederhana dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online disebutkan; Orang yg ingin segala-galanya sempurna. Adapun tanda-tanda orang perfeksionis itu diantaranya:

1. Menganggap sebuah penilaian itu penting

Selalu meletakkan seratus persen konsentrasi pada pekerjaan, dan pada akhirnya selalu menyalahkan diri sendiri karena hasil yang kurang maksimal. Selain itu juga selalu berpikir bahwa bisa melakukannya lebih baik lagi. Sikap ini juga berlaku ketika sedang menghakimi kualitas pekerjaan orang lain dan merasa itu tidak memuaskan bagi Anda.

2. Sangat kompetitif

Selalu memiliki dorongan untuk mengungguli orang lain. Singkatnya, selalu ingin keluar sebagai pemenang atau yang terbaik dalam segala hal. Sifat semacam ini memang manusiawi, namun seseorang tidak mungkin selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. Tetapi jika tidak bisa menerima kenyataan itu, berarti bisa dikatakan seorang perfeksionis sejati.

3. Terobsesi pada kesalahan dan kegagalan

Tidak pernah puas dengan pekerjaan yang Anda lakukan. Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, baik itu yang sederhana atau pun rumit, tetap mengomel tentang kesalahan dan kegagalan yang dibuat. Ini jelas bukan perilaku yang tidak sehat dan dia pasti lah seorang perfeksionis karena dia tidak bisa menerima kesalahan apa pun.

4. Gigih

Seorang perfeksionis sangat gigih dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dia akan selalu fokus sampai akhir. Sampai dia berhasil meraih sesuatu yang diinginkannya. Ini adalah salah satu sikap terbaik yang dimiliki oleh seorang perfeksionis. Setelah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang perfeksionis akan berusaha untuk memeriksa pekerjaannya secara berulang-ulang, karena dia tidak ingin membuat kesalahan sama sekali.

5. Tidak pernah mau salah atau gagal

Membuat kesalahan itu manusiawi, namun seorang perfeksionis ingin segalanya terlihat sempurna. Bahkan, kesalahan kecil pun bisa membuat dia kehilangan kendali dan merasa frustrasi. Tak jarang, seorang perfeksionis mengalami perubahan suasana hati yang drastis karena terlalu mudah resah atas kegagalan yang dialaminya. Jika dia adalah seseorang yang tidak suka gagal atau salah, dia tentu termasuk perfeksionis.

Lima hal tersebut hanyalah diantaranya saja dimana dari lima hal tersebut ada yang persis terdapat pada diri saya ada juga ada yang meleset, dan lima hal tersebut saya kutip dari salah satu situs web portal berita yang dapat dilihat langsung pada lapak aslinya di sini.

Kembali pada pembahasan semula, tantang salah satu alur kisah dalam novel SHDH yang ada kemiripan dengan yang saya alami adalah, di sana diceritakan seorang tokoh yang sedang belajar ke negeri wahyu, demikianlah penulis menyebutkan nama Saudi Arabia. Nama tokoh dalam kisah tersebut adalah Herri, mohon maaf apabila ada kesamaan nama, yang jelas ini bukan kamu!! 😀

Ketika itu, Herri baru beberapa bulan tinggal di negeri wahyu untuk belajar sekaligus berkeinginan menunaikan ibadah haji. Suatu ketika, ada yang bertanya, namanya Abdurrahman, seorang santri dari Chad, sebuah negeri kecil di benua Afrika.

“Anakmu berapa?”, tanya Abdurrahman pada Herri.

Spontan Herri jawab, “Tiga”.

Kemudian Abdurrahman bertanya nama dari anak-anaknya Herri, dengan fasih Herri menjawab dimulai dari nama anak yang pertama. Tetapi Herri tersendat ketika hendak mengatakan nama anaknya yang kedua dan yang ketiga. Otaknya blank dan itu bukan main parahnya, bahkan membayangkan wajah anaknya tersebut juga tidak mampu. Hanya tingkah polahnya beberapa saat terakhir sebelum berangkat ke negeri wahyu yang dia ingat. Abdurrahman pun tertawa merasa heran melihat ada seorang ayah yang lupa pada anaknya. Herri mengalami hal ini karena dia terlalu fokus dan saking semangatnya mencari ilmu, demikianlah diceritakan oleh penulis.

Itulah sekilas cuplikan kisah dalam novel SHDH yang saya ceritakan kembali dengan bahasa saya. Mohon maaf kepada penulis dan kepada penerbit novel SHDH, saya telah lancang memporak-poranda isi ceritanya. Sekali lagi maafkan saya! Saya hanya berharap hal ini dapat bernilai investasi dan menjadi ibadah bagi kita semua.

Selanjutnya tentang saya, saya yang katanya adalah orang yang perfeksionis. Seringkali lupa untuk hal-hal yang sederhana, yang paling saya ingat suatu hal yang sering terlupakan adalah memberi kabar tentang keadaan saya kepada orang yang mengharapkannya atau orang yang senantiasa mengharap kabar tentang diri saya. Ah, kayak selebriti saja 😀

Bagaimana hal ini terjadi? Begini, sebelum saya mengakui bahwa saya orang yang perfeksionis, saya akan sampaikan tentang bagaimana saya. Saya itu (jujur ini saya sampaikan) selalu berpikir keras untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik guna mendapatkan hasil maksimal, alasannya sederhana. Karena saya ingin tersenyum lepas melihat hasil kerja saya. Tidak ada yang lain, setiap saya berbuat sesuatu, saya ingin mengakhirinya dengan senyuman. Mungkin kalian pernah mendengar jargon Save the best for the last, kira-kira demikianlah saya. Harapannya juga sederhana, sebab saya ingin selalu bisa bersyukur di setiap akhir moment-moment yang saya alami.

Kita semua tahu bahwa bersyukur itu dianjurkan, bahkan anjuran itu menduduki kepasitas kewajiban. Oleh sebab itulah saya berupaya serta berusaha semampu yang saya bisa untuk menciptakan suatu kondisi pada diri saya agar tidak lupa untuk bersyukur. 🙂

Akhirnya, saya yang merasa aneh dengan diri saya, sekarang tidak lagi sebab ternyata itu fitrah saya yang katanya memiliki karakter perfeksionis. Dan untuk yang senantiasa mengharap kabar dari saya. Maafkan saya jika ternyata dibeberapa kesempatan saya lupa SMS atau mengirim kabar, maklumilah. Karena saya rasa, yang saya alami ini adalah suatu yang lumrah dan ini fitrah atas diri saya yang senantiasa harus disyukuri. 🙂

Iklan