Suatu ketika, tercatat dalam memori waktu sebuah peristiwa sederhana. Peristiwa tentang percakapan dua hati yang saling menautkan asa, menyulam temaram dalam batin tersanding.

Sunyi menjadi saksi, menelisik semua yang terbersit, di setiap riuh yang berkungkung menukik ke dalam deru yang kian sama-sama dirasakan.

Sejenak hening, tiba-tiba tertahan nada ragu, “Ganteng dalam versimu itu bagaimana?

Ganteng itu sepertimu!“, gemericik suara yang lainnya.

Bagaimana kau menyatakan aku sebagai ganteng di matamu?“, menelisi ruang yang gamang, menyeruak sengit ke dalam ubun-ubun malam.

Nafaspun ditarik, dihujamkan ke pangkal batin, “Entahlah, wajahmu yang cerah, pandanganmu yang lembut, senyumanmu yang menyejukkan dan sikapmu yang santun. Satu paket itu lengkap menjadi kriteria ganteng dimataku..“.

Kembali senyap, menepi di ujung malam yang tenang. Sepasang jiwa saling mendekap sepi yang kian membelati.

~ ~ ~ ~ ~

Di catat dengan sedikit tenaga yang tersisa,

menjelang pejam. 🙂

Iklan