Sedikit tersenyum membaca kembali judul tulisan ini, berangkat dari kebingunan mau menulis judul apa. Akhirnya didapatilah judul yang relatif panjang ini, mungkin dengan demikian dapatlah tergambarkan apa yang hendak saya sampaikan disini.

29 Juz Harga Wanita, novel cinta yang kisahnya mendayu dalam rahim pedih yang teramat dalam. Membaca novel ini saya dibuat sakit, lumpuh tak berdaya. Setengah jiwa saya hilang ikut serta dalam denyut kisah yang terbawa alur pilu membeku.

Secara umum saya katakan novel ini sukses terlebih dalam perspektif editor apalagi dari sang penulis sendiri. Namun kita juga pasti tahu bukan, bahwa dalam setiap hal tidak ada yang nyaris sempurna tanpa cacat. Dan disini saya hendak menyampaikan beberapa hal yang menjadi nilai minus dari karya kang Ma’mun Affany ini. Tentu hal ini dalam perspektif saya sebagai pembaca yang sangat awam tentang kepenulisan.

Pertama, sikap Toni ketika kehilangan Naela untuk yang kedua kalinya tidak jauh beda dengan saat Toni mengalami penolakan dari Naela, sama-sama suka murung. Padahal – dalam hemat saya – ketika Toni kehilangan Naela untuk yang kedua kalinya dia sudah lebih dewasa, disampaikan juga dalam kisahnya dia sudah menjadi pribadi yang lebih tenang dan sudah lebih dekat kepada Allah. Harusnya, – ini pendapat lhoa yaa 😀 – ketika Toni kehilangan Naela yang kedua kalinya dia tidak banyak termenung dan mengurung diri dalam kamar, tapi akan lebih terekplorasi emosionalnya terhadap pembaca bila dia menyendiri di masjid atau mushollah sembari menangis dan membaca Al-Quran, karena memang Al-Quran pemberian Naela itulah yang menjadikan dia sebagai pribadi yang lebih tenang dan mengenal Tuhannya.

Kedua, upaya Toni untuk menemukan Naela ketika sudah menjadi istrinya tidak lebih dahsyat dari upaya saat mereka belum menikah. Secara, dalam Islam istri itu tanggung jawab penuh bagi suami. Dalam kisah, Toni mencari Naela yang belum menjadi istrinya hingga ketemu dalam waktu tiga minggu dan upayanya cukup luar biasa dengan menyusuri sudut-sudut kabupaten Kediri, dari pesantren ke pesantren lainnya (sebanyak 24 pesantren kalau tidak salah). Akan tetapi ketika Naela sudah menjadi istrinya, Toni mencari sampai ketemu harus terpaut waktu dua tahun dan itupun secara tidak sengaja, dengan perantara mengisi seminar bedah bukunya. Nah disini saya kira kebalik secara respeksitas seorang suami terhadap istrinya.

Mungkin sekilas itu saja, saya tidak mau banyak mengkritisi, sebab jujur saya sendiri belum bisa sebenarnya menulis seperti kang Ma’mun Affany. Dan oleh sebab itu saya juga akan menyampaikan hal-hal luar biasa dalam novel ini. Selain apa yang saya sampaikan diatas, ada beberapa improvisasi yang menjadikan kisah dalam novel ini lebih terkesan.

Pertama, alur cerita yang tidak bisa diterka. Sebelumnya, ketika saya membaca novel, tidak jarang saya mereka-reka beberapa kemungkinan alur yang akan saya baca. Namun pada novel ini saya sering meleset dalam memprediksi, sehingga hal tersebut menciptakan sugesti tersendiri bagi pembaca, terlebih saya sendiri.

Kedua, eksplorasi rindu dalam kisah ini cukup luar biasa. Saya sendiri salut dengan setiap pijakan kata dalam mencuatkan kesan kerinduan dalam jiwa Toni dan Naela, seakan-akan pembaca dapat menyelami kedalaman hati mereka berdua.

Ketiga, Keteguhan Toni dalam meraih sesuatu yang diinginkannya. Cukup luar biasa, hingga mungkin hampir tidak dapat kita temukan dalam dunia nyata. namun bukan berarti hal itu mustahil, justru hal yang demikian itu mengajarkan kita agar lebih serius lagi dengan apapun yang kita cita-citakan. Terlebih saya sendiri yang seringkali merasa kendor semangatnya dalam meraih impian. Hufftt.., saya ingin sekali seperti Toni.

Keempat, Eksplorasi sosok Naela dalam kisah ini cukup luar biasa, sosok tersebut benar-benar perempuan sesungguhnya. Dimana sekarang dalam dunia nyata banyak sekali perempuan tidak berkenan dengan identitas keperempuanannya, dalam hal ini saya tidak perlu banyak jelaskan bagaimana perempuan yang sesungguhnya. Saya khawatir ada beberapa pembaca yang kebetulan bertolak belakang kepribadiannya dengan sosok Naela sehingga akan tersinggung, lagi pula saya kan bukan penceramah, hehe. Andai kata ada yang penasaran dengan sosok perempuan yang sebenarnya, berkenanlah kiranya untuk membaca sendiri kisahnya pada karya kang Ma’mun Affany yang berjudul 29 Juz Harga Wanita. (bukan promsi 😀 )

Sekilas demikianlah tanda silaturrahim saya, namun sebelumnya saya mohon maaf terhadap penulis yang dalam hal ini adalah kang Ma’mun Affany. Saya telah lancang mengomentari karyanya, meski hal ini ter-bilang sudah agak terlambat sebab buku yang saya baca ini sudah tercetak Desember 2011 yang lalu, tapi saya berharap menjadi investasi ukhrowi dan dinilai ibadah. Minimal sebagai silaturrahim saya sebagai pembaca dengan kang Ma’mun Affany sebagai penulis, atau dengan beberapa pihak di balik munculnya karya tersebut.

Sengaja saya sampaikan pertama kekurangannya, kemudian di bagian akhir saya sampaikan kelebihannya agar yang membaca, terlebih andai saja penulis sendiri yang baca akan terkesan Save the Best for the last. Intinya, saya berniat mengkhibur lah bagi yang kebetulan sempat baca celoteh saya ini. Dan berdasarkan hal tersebut diatas, saya tetap merekomendasikan novel ini dibaca bagi yang belum berkesempatan membacanya, sarat pelajaran bagi kita, ini pendapat saya. Akhirnya dari saya, wabillahi taufiq wal hidayah, shodaqollahul ‘adziem. 🙂

Iklan