Dalam situasi apapun, saya berusaha bersyukur untuk setiap saat, setiap detik, jam, hari, minggu, bulan dan tahun-tahun yang kian berlalu dengan kompleksitas yang sangat mengagumkan, saya akui itu. Alhamdulillah saya masih tetap memperjuangkan kalimat tahmid ini, tidak sekedar aktivitas lisan. Namun juga berusaha sebisa mungkin turut serta mentahmidkan hati, jiwa dan seluruhnya dalam diri saya.

Termsuk saat ini, sekilas saya merasa sedang berada dalam situasi yang sangat berat, dilema dan rentang. Entah mengapa saya katakan demikian, yang jelas demikian gejolak itu senantiasa mengintimidasi jiwa kelabilan saya. Diantara hal penyebabnya adalah ketika pribadi seperti saya, yang dalam hal ini masih serba terbelenggu saya rasakan. Betapa tidak, sampai titik ini saya merasa beku karena suatu keadaan yang datang terasa mencekam.

Bagaimana saya bisa merasa seperti ini? Sangat sederhana, mungkin juga banyak dialami oleh kebanyakan anak manusia seusia saya baik di masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Diamana ketika anak manusia itu sedang memiliki mimppi besar namun ada suatu hal yang yang menghadang jalan menuju yang diimpikan. Termasuk saya, sekarang saya punya impian yang rasanya hal tersebut terkendala oleh suatu hal, dan yang lebih dilematis adalah suatu hal tersebut juga terkendali dari impian saya. Bingung ya?

Begini, kemarin saya sudah sampaikan bahwa pada tanggal 12 Agustus 2014 kemarin saya sudah sidang TA dan lulus dengan revisi. Alhamdulillah saya revisi satu dalam pengumuman, dimana ada tiga kategori keterangan dalam pengumuman kelulusan kemarin. Kategori satu, kategori dua dan tiga. Kategori satu itu revisi ringan dengan sekali proses dan minta persetujuan (tanda tangan) pembimbing dan pengesahan penguji. Kategori dua itu revisi sedang dengan lima kali proses (bimbingan yang dibuktikan adanya lima tanda tangan) pembimbing sekaligus pengesahan penguji. Sedangkan kategori tiga itu ujian ulang pada bulan oktober mendatang.

Kemudian, sambil lalu berproses menuju 12 Agustus 2014 kemarin, saya mencoba melamar kerja di suatu perusahaan di kota ini dan pada tanggal 20 Agustus 2014 kemarin saya dipanggil untuk interview namun hingga sekarang saya belum mendapatkan konfirmasi tentag kelanjutan dari interview tersebut, padahal dalam interview saya ditanya begini, jika diterima kerja saya siapnya kerja mulai kapan? Saya jawab September 2014. Bukankah sekarang sudah sampai pada bulan yang dimaksud? Yang menjadi tanda tanya dalam hati saya, apakah saya akan tetap dikonfrmasi meski andai saja saya tidak diterima sebagai karyawan disana? Kalau tidak ada pemberitahuan, apakah saya akan tetap menunggu sedangkan pada kennyataannya misalkan sesuatu yang saya tunggu tidak kunjung datang atau tidak akan pernah datang selama-lamanya. Namun saya tetap berpemikiran baik dan berusaha untuk tetap sabar. 🙂

Selanjutnya saya berpikir untuk mencari alternatif lain. Singkat cerita ada satu lowongan dan saya disarankan mencoba. Namun kendalanya adalah Ijazah saya belum keluar dari kampus dan orang yang memberi informasi lowongan tersebut langsung menanyakan Ijazah saya sudah keluar apa belum dan saya bilang kalau Ijazah saya belum keluar. Kemudian saya diminta nanya kapan keluarnya Ijazah saya ke pihak kampus.

Dari hal ini saya merasa senang dan juga sedikit kecewa. Senangnya karena yang memberi informasi itu adalah masih ada ikatan famili dengan saya dan saat menginformasikan sepertinya cukup meyakinkan. Namun seperti yang saya katakan barusan bahwa saya kecewa (sebab Ijazah belum keluar), kekecewaan ini terjadi selepas saya khilaf dan lupa betapa selama ini saya sudah banyak memperoleh kebaikan dalam hidup ini. Terbukti saya sudah bisa menyelesaikan suatu fase dalam hidup ini dan berada dalam puncak tertinggi dalam perhelatan seorang mahasiswa. Tak terbayang rasanya dulu, ketika suatu saat saya merasa gelap mata, tak ada harapan untuk mencapai suatu keadaan diamana setiap orang menyatakan begitu mendebarkan (baca: sidang TA), namun bagi saya itu impian.

Benar, saya sudah melampaui impian itu sekarang, dengan sisa-sisa harapan yang tercecer dalam diri saya. Entah bagaimana Allah memberikan jalan, namun pada akhirnya saya diperkenankan menemukan tapak-tapak terang dan menyelesaikan saat-saat sulit itu, saat saya merasa gelap mata dengan jerih dan rintih sendiri. Oh, ternyata seperti ini rasanya mencari uang untuk biaya kuliah? Desis saya saat ini. Kemudian saya berpikir, bagaimana kelak saya mencari nafkah untuk keluarga saya? Ah, rasa-rasanya terlalu kreatif saya berpikir. 🙂

Kembali pada soal dilema, saya merasa benar-benar dilema berada dalam situasi sekarang ini. Betapa tidak, saya sedang butuh pekerjaan namun ternyata pekerjaan membutuhkan Ijazah, bagaimana bisa saya mendapatkan Ijazah bila saya tidak bisa menyelesaikan administrasi di kampus. Ah, rasa-rasanya situasi ini telah kompromi untuk menertawakan saya.

Iklan