Sebuah metabolisme dalam kehidupan seorang yang sedang mencari jati dirinya. Semua tahu bahwa hidup itu tidak selalu mulus, indah dan sesuai dengan rencana. Dan semua itu ada hikmahnya, minimal agar kita menjadi orang yang senantiasa siap siaga menghadapi kemungkinan-kemungkinan diluar nalar kemanusiaan dan belajar untuk menyikapi sebuah kemungkinan tersakral dalam hidup ini, ialah kematian. Ini sekedar contoh 🙂 Tidak ada maksud menakut-nakuti, hanya mengingatkan bahwa kematian akan menjumpai kita 😀

Berbicara seorang santri, adalah sebutan untuk seorang pembelajar dalam lingkungan atau sebuah instansi pendidikan keislaman. Kaum santri identik dengan keteduhan dan kesejukannya ketika dipandang, bukan karena dia sebagai makhluk salju, tapi lebih karena aura kedekatannya dengan penciptanya. Memang tidak selalu seorang santri seperti itu, namun dogma yang tercipta dalam pikiran kita kaum santri secara umum sudah terdeskripsikan hal yang demikian.

Sebagaimana pada umumnya, menjadi santri tidaklah lepas dari sebuah partisipasi seorang pribadi dalam mengiringi laju kehidupan. Dan sudah saya sampaikan di atas bahwa kehidupan tidak selalu mulus, indah dan sesuai dengan rencana. Kadang kala ada saat-saat membahagiakan, adakalanya kita dipertemukan dengan nuansa yang sedikit memilukan. Itu sudah lumrah, dan tidak perlu dipermasalahkan. Hadapi saja dan biarkan masa-masa yang kita rasa suram itu berlalu.

Sepuluh tahun yang lalu, saya pernah diputuskan menjadi santri oleh taqdir atas kehendak yang memegang laju peredarannya. Tadqir beredar menghampiri saya dan menyatakan keputusan tersakralnya, dengan sangat berat saya rasakan waktu itu saya jalani dengan belajar mencicipi ketulusan menuju keikhlasan. Akhirnya semua berlalu, hingga kini saya berhasil melalui semua nuansa kehidupan seorang santri.

Mengingat kilas balik dari penggalan hidup saya, sebagai santri. Ada nasehat yang selalu saya ingat dari bapak saya. Entah bagaimana saya mampu menerima nasehat itu, yang jelas saya mengakui akan kebenaran dari nasehat itu. Bapak berkata:

Pintar itu nomor dua. Tapi sikap dan pengabdian itu yang pertama dan harus paling diutamakan. Dengan mendapatkan perlakukan yang menurut kita tidak wajar dari seorang guru, jangan sampai berprasangka yang negatif untuk beliau. Yakinkan itu adalah ujian bagi kita sebagai pembelajar. Pertahankan cinta dan pengabdian yang selalu prima dan prioritas terhadap beliau, sebab ilmu yang didapatkan itu tidak akan pernah berguna tanpa adanya ‘himmah’ (pengabdian). Dan dengan jalan pengabdianlah barokah itu akan didapatkan.

Nasehat bapak diatas ini sudah saya modifikasi bahasanya, sebab saya sudah lupa kalimat aslinya yang terlontar dari lisan bapak. Namun saya mengingat betul substansi dari nasehat yang beliau sampaikan. Dan kemarin saya sampaikan nasehat ini untuk seorang yang sedang menjalani episode kehidupannya sebagai santri.

Meniringi nasehat tersebut, saya juga sampaikan beberapa kalimat berikut untuk lebih meyakinkan dan meneguhkan hatinya. Berharap dia lebih tenang dan lapang dalam menjalani situasi-situasi yang tak bersahabat dalam persepsinya.

Ketika seorang santri mendapatkan tekanan dari sikap dan tindakan gurunya, tidak perlu berbuat sesuatu yang menurutnya (seorang santri) bisa merubah keadaan. Sebab itu mungkin agak mustahil terjadi. Sekarang yang perlu dia (seorang santri) lakukan adalah menenangkan hati dan berusaha untuk menyenangi situasi yang dirasa sulit.

Percayalah bahwa kepatuhan dan pengabdian itu mampu menghasilkan keajaiban. Nah, oleh sebab itu kita tidak perlu menghadapi situasi itu dengan logika. Berpikirlah positif dengan segala yang sudah dialami dan percayalang engkau akan mampu menghadapi segalanya dengan penuh keajaiban.

Sebagai penutup saya juga sampaikan sebuah janji yang benar-benar nyata kebenarannya, janji yang pasrti terjadi dan tidak akan pernah teringkari dari Sang Maha Pemegang janji.

Allah berjanji dalam firmanNya bahwa orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya. Nah, justru karena orang yang beriman dan berilmu itu disediakan derajat yang tinggi maka disediakan jualah ujian yang sepadan untuk meraih derajat yang tinggi tersebut. Percayalah, engkau adalah yang terpilih menjalani ujian itu, maka engkaulah yang dikehendaki meraih kesuksesan itu. Sukses selalu untukmu yang sedang bergulat di medan laga perjuangan.

Adalah satu paket antara seorang santri dan seorang guru. Guru adalah orang yang mendampingi santri, keberadaannya terjadi secara otomatis ketika ada seorang santri. Dikatakan guru karena beliau adalah orang yang (dianggap) pantas untuk digugu dan ditiru dalam aspek keilmuan dan kehidupannya. Seorang santri tidaklah benar mengapresiasi seorang guru atas keilmuannya saja, sebab ilmu tanpa pengamalan akan menjadi petaka baginya. Oleh sebab itu sisi kehidupan dari seorang guru juga penting menjadi fokus perhatian seorang santri dalam prosesi pencarian jati diri dan keberkahan akan keilmuannya.

Guru yang bijak, pasti tahu apa yang hendak dilakukan dan bagaimana cara bersikap di depan santrinya. Sikap dan tindakan seorang guru tidak perlu selalu sesuai dengan nalar dan logika. Sebab ilmu dan barokah tidaklah ada sangkut pautnya dengan logika, bahkan tidak jarang logika senantiasa membawa diri kita ke lembah kenistaan dan ketidak beruntungan.

Sebagai seorang (yang pernah menjadi) santri, adalah sebuah dogma dalam konsep pemahaman dan keyakinannya bahwa seorang guru dapat memberikan berkah terhadap santri-santrinya. Tidak lepas dari itu, guru dan santri juga memiliki satu komponen keramat yang tidak bisa diabaikan, dan dipercaya juga menjadi suatu tempat sumber berkah. Tempat yang tidak asing dan seringkali kita dengar, Pesantren.

Semua orang sudah faham dan mengerti apa itu pesantren, bahkan pengertiannya juga sudah banyak. Mulai dari definisi paling sederhana hingga tersulit sekalipun. Pesantren bisa memiliki banyak arti, setiap orang bisa dan boleh mendefinisikannya sesuai dengan nalar dan kemampuan berpikirnya. Termasuk saya yang masih banyak bodohnya ini, saya juga memiliki definisi tersendiri akan sebuah pesantren itu.

Dalam mendefinisikannya, saya membelah kata pesantren manjadi ‘pesan’ dan ‘tren’. Kita semua faham makna dari kedua kata tersebut. Dan dari kedua kata tersebut saya memahami bahwa pesantren itu adalah sebuah tempat yang menyampaikan pesan-pesan (nasehat, pelajaran) berharga dan pesan itu selalu sesuai dengan situasi, kondisi dan tantangan zaman manapun dan kapanpun (nge-tren).

Dengan definisi tersebut saya memahami bahwa pesan-pesan yang selalu ngetren itu harus selalu diingat dan diamalkan. Sebab dengan mengamalkan kita akan mendapat ilmu yang bermanfaat, karena ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang diamalkan, katanya. Dan dengan diamalkannya ilmu itu kita akan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang terus bertambah setiap saat selama kita masih menjaga pesan-pesan yang selalu ngetren tersebut dengan cara mengamalkannya. Nah inilah yang dinamakan barokah itu, kebaikan-kebaikan yang bertambah yang dalam bahasa kitabnya, ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Ditulis dalam rangka mengenang nasehat-nasehat orangtua, guru dan peristiwa-peristiwa yang membawa saya terhadap pintu kebijaksanaan. Semoga saya mampu memasuki pintu kebijaksanaan itu dengan mudah dan diberkati oleh Allah. 🙂

Malang, tempat perantauanku dengan coretan pertama dalam pemikiran liarku bersama Oktober yang penuh keberkahan, insya’Allah. 🙂

Iklan