Waktu terus bergulir, datang dan pergi adalah kebiasaan yang terkadang menjadikan kita begitu aneh menemuinya. Hingga suatu saat aku sebagai lelaki paling buta dalam pergulatan rasa dan pemikiran. Seperti kemarin, rindu itu begitu dahsyat mencurigaiku. Harusnya, aku sudah membersamainya dalam curah diplomasi paling mempesona untuknya. Menyertai kehadiran dan kelanjutan cerita dalam misi hidupnya. Seperti dunia, yang terus terkejar dalam medan pijar. Sungguh, sangat sederhana rupanya, seperti terik dalam kaca yang pernah aku punya, waktu itu, bersama risau yang menjenggala.

Biarlah, hidup ini adalah milik bersama. Siapa saja boleh menertawakannya, agar semakin gegap lalu gempita bersama-sama. Meski sesungguhnya, hidup ini bukan lelucon, namun sorainya tentu selalu menyegarkan cara, terhadap siasat yang terus menyertainya. Bahkan, terkadang sebuah misi membuntutinya, dengan rasa penasaran yang penuh warna.

Dan, bila rima itu semakin dekat. Menghampiri gelap yang aku punya. Satu-satunya ia yang paling aku kenal adalah tawa, dari kedalaman rintih dibalik muara paling jauh kurengkuh, berlabuh menyeluruh tumbuh dan utuh.

Kau bahasa dirga paling sejuk yang aku tahu. Membersamaimu adalah ritme baru yang menelusup dalam nadi kebisinganku waktu itu, namun akhirnya sebab kilau senyum itu aku tertunduk, menemui sendu paling berharga di dalam hatimu.

Iklan