11233267_798860566888249_7896214386535621081_n

Terima kasih Allah, Terima kasih cinta, terima kasih untuk semuanya yang telah banyak mencurahkan perhatian, semangat, doa dan support untuk kebahagiaan kami. Genap satu bulan sudah saya ditaqdirman menjadi seorang suami, ini berkat doa orang tua dan saudara-saudara terkasih dan penyayang yang kami miliki. Untuk itu sekali lagi saya ucapkan terima kasih kembali untuk semuanya yang telah berpartisipasi untuk kebahagiaan kami ini.

Sebelumnya, izinkan saya bercerita tentang pernikahan kami. Disini saya akan ceritakan sejak pertama kali kenal mantan pacar saya. Waktu itu, saya yang gemar beraktivitas di dunia maya, terutama facebook dengan tidak sengaja meng-add seorang perempuan berfoto profil berikut:

999619_508951579212484_1235105469_n

Foto profil inilah yang melatar belakangi saya bisa mengenalnya. Pasalnya saya dulu lebih suka berkenalan dan bersosialisasi (di dunia maya) dengan orang yang lebih dewasa, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Alasannya, karena saya ingin banyak belajar dari kepribadiannya dan pengalaman hidupnya. Selain itu untuk mencuri karakter dari orang yang dimaksud, secara waktu itu saya suka menulis cerpen atau puisi, dari banyak kenalan seperti inilah terkadang saya dapat inspirasi.

Singkat cerita, ketika saya melihat tangan perempuan ini, saya mengira dia telah menikah. Untuk itulah saya tertarik untuk berkenalan dan berdialog seputar pernikahan dan rumah tangga, namuan ternyata persepsi saya salah 180 derajat. Perempuan ini masih lajang, dan ketika saya tanya kenapa tangannya seperti itu?

“Agar ketularan”, jawabnya dengan emoticon senyum.

Ah, aneh! Pikir saya dalam hati.

“Memangnya menikah itu bisa nular ya?” tanyaku kemudian.

Saya lupa jawabannya, yang jelas perempuan ini waktu itu (tertulis di catatan waktu pertengahan Desember 2013) sangat ingin menikah, malah katanya dia menuliskan impiannya itu di dinding asrama pondoknya dengan ukuran yang relatif besar, kira-kira tulisannya seperti ini: Menikah Awal 2014.

Kemudian dia bercerita tentang mimpi-mimpi dan keinginan, katanya keinginan yang dituliskan itu dominan cepat tercapai. Mau tau alasannya? Nantikan edisi khusus dari kami 😉

Singkat cerita, ah.. singkat cerita terus nih, tapi gak nyampe-nyampe. Gak apa-apa ya guys. Sabar. Bukankah ramadlan memang terapi sabar? 😀

Baiklah, setelah perkenalan yang singkat itu. Saya nyatakan kometmen bersamanya, tentunya hal ini setelah melalui proses dan pergulatan sengit dengan waktu. Dan tahun 2014 kemarin adalah ramadlan perdana saya bersamanya, hanya saja kebersamaan kami belumlah sempurna, sebab ramadlan kami masih terpisah dengan jarak dan waktu. Saya di Pamekasan dan dia di Malang.

Dan Alhamdulillah kali ini, 2015 yang sangat menyenangkan. Saya ditaqdirkan menjalani ramadlan bersamanya tanpa dibatasi jarak dan waktu, pasalnya kami telah tinggal serumah. Alhamdulillah sekali lagi. 🙂

Sebagai tambahan nih, ramadlan tahun 2014 kemarin kami memang berharap ramadlan tahun ini kita sudah bersama, dan tidak dinyana. Alhamdulillah sekali lagi, itu jadi kenyataan. Padahal, dalam konsep pemikiran saya secara kapasitas kemanusiaan, diperkirakan saya bisa menikahinya pada tahun 2017 mendatang. Tapi Allah Maha Besar atas segala kehendakNya. Alhamdulillah sekali lagi 😉

Harapan saya untuk saudara-saudara tercinta, jangan ragu untuk bermimpi dan berharap. Paculah impian kalian dengan doa dan usaha. Pelajari caranya (sebab segala sesuatu ada ilmunya, tidak terkecuali ilmu bermimpi) dan mantapkan keyakinan. Inysa’Allah pasti ada jalan. Doa saya menyertai kalian semua. 🙂

Semangat cinta!!! 😉

Salam hangat dari kota Malang yang penuh dengan cinta untuk kita semua. 🙂

Iklan