Terkadang, begitu sering sayang mendapatkan pertanyaan sederhana dari istri saya tercinta. Akan tetapi sering pulalah saya merasa bingung untuk menjawabnya. Pasalnya, seorang perempuan itu begitu sensitif, begitulah yang saya tahu. Salah satu pertanyaan yang mungkinbelum saya jawab dengan sempurna adalah, ‘Mengapa abi mau menikahi umi? Padahal masih banyak perempuan yang lebih cantik di luar sana?’.

Baru saja saya membaca sebuat artikel tentang Kisah Keislaman Adik Ipar PM Inggris, Lauren Booth namanya. Ada beberapa bagian yang menggerakkan saya untuk menyempurnakan jawaban dari pertanyaan istri saya tersebut. Saya akan kutib bagian artikel yang di maksud sebagaimana berikut:

Lauren bercerita: “Wajahnya berseri, matanya bersinar, dia mempersilahkan saya masuk ke rumahnya seperti mempersilahkan saya masuk ke istana Taj Mahal. Seakan-akan rumahnya adalah tempat terindah di dunia.”

Lauren memperhatikan rumahnya: Hanya dinding, atap, dan dua tikar terhampar. Satu tikar untuk tidur dan shalat, satu tikar untuk hidangan makanan. Tidak ada apa-apa selain itu. Lemari, kursi, apalagi televisi, tidak ada.

Tapi ungkapan wajah dan bahasa tubuhnya seperti orang yang sangat berbahagia, Lauren tak habis pikir.

Perhatikan pernyataan Lauren Booth, ‘dia mempersilahkan saya masuk ke rumahnya seperti mempersilahkan saya masuk ke istana Taj Mahal.‘ Padahal rumah yang dimaksud tersebut hanyalah dinding, atap dan dua tikar terhampar. Dari pernyataan Lauren Booth tersebut saya jadi teringat istri di rumah yang pernah menanyakan kenapa saya memilihnya sebab katanya dirinya tidak lebih cantik dari kebanyakan perempuan disana, seperti itulah penuturannya kira-kira.

Wahai istriku, coba perhatikan pernyataan Lauren Booth yang mengkiaskan rumah tersebut di atas dengan sebutan istana Taj Mahal. Mengapa kira-kira Lauren Booth mengkiaskan seperti itu? Apakah karena di rumah tersebut ada berlian, intan dan permata? Tidak! Tapi karena sikap dan akhlaq yang karimah telah ditunjukkan oleh pemilik rumah terhadap tamu yang mengunjunginya. Secara, bagi seorang muslim tamu adalah raja, maka sepantasnyalah tamu (raja) mendapat penghormatan yang setinggi tingginya.

Nah, wahai istriku. Seperti itulah kira-kira jawaban yang sesungguhnya dari pertanyaan yang telah engkau pernah sampaikan beberapa saat waktu lalu. Semoga bisa dipahami, semoga bisa diambil pelajaran. Percayalah, cintaku hanya untukmu seorang. 😉

Iklan