Poligami (1)

Poligami, adalah sesuatu yang sangat mengerikan bagi kebanyakan istri di dunia ini. Apapun dan bagaimanapun bentuk, macam dan motif dari poligami, tetap saja ia adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Terbukti ketika seorang penceramah kondang di tanah air, Aa Gym, semoga Allah menyayanginya. Saat beliau berpoligami, seketika penggemarnya berpaling hingga kini sangat jarang terdengar nama beliau di media.

Harusnya, alangkah bijaknya bila kita dapat membedakan mana yang urusan dakwah dan mana yang masalah kepribadian. Saat Aa Gym beceramah, perbuatan itu adalah dakwah dan ketika berpoligami, yang demikian itu tiada lain kecuali dari sosok kepribadian beliau sendiri. Bila kita mengagumi dakwahnya, sebisa mungkin kita tidak mencemari kekaguman itu dengan perasaan su’udzon karena sebab kepribadian yang katakanlah hal itu bukanlah suatu kesalahan ataupun aib. Sebab, mengagumi orang yang sholih (Insya’Allah Aa Gym termasuk di dalamnya) termasuk dari perbuatan yang bijak.

Beranjak dari masalah Aa Gym, namun tetap pada topik poligami. Secara tidak sengaja, barusan saya membaca pernyataan seorang muslimah yang sangat dan amat kontra dengan poligami. Saking parahnya, bisa dikatakan dia membenci dengan yang namanya poligami, tidak sadar bahwa poligami adalah salah satu syari’at Allah yang dibolehkan dan halal melakukannya.

Hingga terkadang, dia memprovokasi muslimah-muslimah lainnya agar memberontak suami-suaminya yang hendak berpoligami. Dan suatu ketika, muslimah tersebut yang kebetulah hingga menginjak usia 30 tahun lebih belum dipertemukan dengan jodohnya oleh Allah, mendengar segerombolah orang sedang berkumpul dan membicarakannya dan mengatakan dia sebagai perawan tua. Dia yang secara tidak sengaja mendengar percakan itu, cepat-cepatlah dia mengayunkah langkah berharap air matanya tidak jatuh hingga tiba di rumahnya.

Setelah kejadian itu, muslimah tersebut sadar bahwa bagi seorang perempuan (terutama yang nasibnya sama dengan dia) dalam hidup bukanlah kasih sayang yang paling diinginkan dan dielu-elukan. Melainkan seorang suami, tidak peduli dia jadi yang kedua, ketiga, keempat atau bahkan dia dinikahi kemudian suaminya mau menikah kembali. Itu tidak penting.

Untuk yang ingin membaca lebih jelas, silahkan klik ‘Inilah yang mengubahku dari anti-poligami jadi pro-poligami‘.

Ada beberapa pelajaran yang perlu kita renungkan, sadari dan hayati dari kisah tersebut. Minimal pelajaran itu untuk saya sendiri, bersyukur bila ada orang lain yang berpemikiran sama dengan saya. Berikut saya uraikan satu-satu:

  1. Yakini dan sadari bahwa yang dari Allah itu baik dan sudah pasti, dan apapu yang menurut kita, belum tentu. Sekalipun hal itu kita rasakan nyaman dan baik. Seperti dalam pembahasan kali ini, poligami. Yakini dan sadari bahwa poligami itu baik, sebab poligami itu adalah syari’at Allah. Bila ada suatu perdebatan dan lain sebagainya, bukan poligaminya yang salah, tapi pribadi yang menjalaninya yang belum sanggup menjalankan syari’at poligami tersebut. Ingat, segala sesuatu ada ilmunya.
  2. Setiap orang pasti memiliki salah dan dosa, karena memang ‘al-insanu mahallul khotho’ wan nisyan’, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Bersyukurlah kita yang sering salah dan lupa, kemudian menyadarinya. Sebab orang yang jarang salah dan lupa cenderung memiliki sifat sombong, na’udzubillah. Terkait dengan masalah poligami, janganlah kita terlalu menjudge bahwa poligami itu negatif hanya karena banyaknya fakta orang gagal dalam berpoligami, sebab ada juga yang berhasil dalam poligami. Hanya saja dari sekian fakta, yang berhasil tidak lebih banyak dari yang gagal. Semua itu sebagai pembelajaran buat kita. Artinya apa, banyaknya persentasi kegagalan dalam berpoligami menunjukkan sulitnya tingkat keilmuan untuk menjalani poligami, maka tanyakanlah pada diri sendiri tentang kapasitas keilmuan kita dalam berpoligami, jika belum mumpuni maka jangan pernah coba-coba!
  3. Sebagaimana poin kedua diatas saya sampaikan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa, maka seseorang berbuat salah itu bukanlah suatu persoalan yang fundamental sesungguhnya. Maka kurang bijaksana bila ada yang berbuat salah kemudian dijudge, bahkan dicibir begini dan begitu melalui media dan seterusnya. Bahkan seseorang yang membenci saudaranya karena suatu perbuatan dosa, dia tidak akan dibiarkan mati kecuali telah melakukan dosa yang sama. Na’udzubillah. Terkait dengan masalah poligami dalam pernyataan seoranng muslimah yang semula anti menjadi pro terhadap poligami. Dirinya begitu benci dengan poligami, maka sebab itulah dirinya ditaqdirkan mengalaminya sebelum dirinya meninggalkan dunia.

Terkait semua yang telah disampaikan, saya hanya ingin mengutip sabda nabi, ‘Khoirul umuuri ausatuhaa’, sebaik-baiknya persoalan adalah yang sedang-sedang saja. Seperti pada poligami, usahan jangan sampai membenci, cukup tidak suka saja. Itupun bukan tidak suka pada poligaminya, tapi tidak suka dengan orang yang berpoligami tapi belum mumpuni keilmuannya untuk berpoligami.

Untuk mengklarifikasi, terutama terhadap istri tercinta saya. Saya menulis tentang poligami tidak ada maksud dan niatan atau keinginan poligami, selain:

  1. Ingin menyampaikan bahwa poligami itu adalah syariat Allah yang tidak seharusnya dibenci, membenci syari’at Allah sesungguhnya kita telah dekat (sampai) pada perbuatan murtad.
  2. Apapun itu, ambillah pelajaran dari poligami. Jangan sampai menjadikan poligami sebagai bahan mencibir saudara kita.
  3. Untuk yang berpemikiran poligami itu nikmat (terutama kaum ayah), pikirkanlah tetang tanggung jawab. Sesungguhnya tanggung jawab adalah suatu persoalan yang benar-benar akan diperhitungkan dan dipergugatkan kelak. Pikirkan baik-baik!

Bagi saya pribadi, poligami bukan suatu kenikmatan ataupun kebahagiaan. Kenikmatan dan kebahagiaan adalah ketika melihat anggota keluarga bisa ikhlas tersenyum di setiap saat hingga memenuhi ruang-ruang waktu dalam membersamai perjalanan hidup saya. Semoga saya dan yang lainnya diberikan keteguhan dalam menerima amanah dengan penuh rasa syukur atas dirizqikannya seorang istri yang selalu pantas untuk dibanggakan, akhir kata saya ingin selalu sampaikan cinta yang sedalam-dalamnya untuk istriku seorang. Uhibbuki fillah! 😉

Iklan