Menabung, bukan suatu yang aneh bagi kita. Mayoritas dari kita semua bisa dipastikan sudah pernah mengalami atau melakukan tindakan ini. Akan tetapi tidak semua dari kita berhasil menabung hingga mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Sebelumnya, saya tegaskan bahwa setiap tindakan pasti dilatar belakangi dengan sebab dan untuk mencapai akibat atau katakanlah tujuan. Begitu pula dengan menabung.

Nah, dalam kesempatan kali ini saya hendak berbagi ulasan tentang menabung. Ulasan ini tentang pengalaman pribadi saya. Waktu itu saya masih kelas tiga Sekolah Dasar, dan Alhamdulillah sejak saat itu entah kenapa saya gemar menabung. Waktu itu saya tidak punya obsesi apapun dengan tindakan menabung. Namun saya merasa senang saat menghitung hasil tabungan yang telah saya kumpulkan beberapa saat lamanya.

Mungkin kalian sudah bisa menebak anak seusia saya waktu itu menabung dengan cara apa. Mustahil memang jika anak seusia kelas tiga SD menabung di bank. Yupz betul sekali, tabungan tradisional, atau sebut saja dengan celengan. Namun ada yang menarik disini, saya membuat celengan sendiri menggunakan tanah liat dengan bentuk yang saya inginkan. Pernah saya membuat celengan dengan bentuk harimau, kucing, kuda, gajah bahkan burung.  Waktu itu saya tidak pernah menyadari apa manfaat dari yang saya lakukan kecuali sekedar merealisasikan hobby, namun setelah beranjak dewasa saya baru menyadari bahwa dari apa yang saya lakukan tersebut banyak manfaat, minimal dalam perspektif saya. Berikut saya akan coba menyampaikan satu persatu dengan bahasa yang paling sederhana, mudah-mudahan bisa difahami:

  1. Hemat

Dengan membuat tabungan sediri, dari apapu itu. Bisa dari kaleng bekas, kertas, kayu atau seperti yang telah saya lakukan dengan membuat celengan dari tanah liat, sudah bisa dipastikan kita telah hemat. Minimal kita tidak perlu membeli celengan dari plastik yang berbentuk ayam dan sejenisnya sebagaimana yang sering kita temui di pasaran. Atau bila kita mau sedikit berpikir, kita sudah mempraktekkan tindakan menghemat uang. Dengan begitu, apabila kita membuat tabungan tersebut bersama anak-anak, kita bisa langsung menjelaskan kepada mereka apa itu hemat dan bagaimana manfaatnya. Insya’Allah akan lebih cepat dipahami. Dan kemungkinan besar mereka akan membiasakan diri untuk berhemat, sebab mereka telah mengenal hemat dengan cara yang menyenangkan.

  1. Sarana Bermain yang Aman

Bagi seorang anak, membuat tabunagn sendiri bisa jadi membutuhkan waktu yang lumayan lama. Oleh sebab itu, waktu yang digunakan untuk membuat tabungan bisa menyita waktu untuk bermain diluar lingkungan rumah. Sehingga para orang tua bisa memantau dengan baik bagaimana dan apa yang diperbuat anak kita dengan baik. Lho, kenapa sih kok ndak boleh main diluar lingkungan rumah? Sebenarnya bukan tidak boleh, tapi bermain diluar itu banyak resiko. Contoh kecil, si anak suka membangkang dan suka berkata kasar bahkan yang jorok kepada orang itu. Hal ini terjadi ketika anak sering bermain di luar bersama teman-temannya yang kurang terdidik.

  1. Menghargai Proses

Karena tabungan yang digunakan adalah hasil karya sendiri, biasanya kita merasa sayang banget untuk cepat-cepat memecah tabungan. Sebab untuk membuatnya saja membutuhkan waktu yang lama, masak dengan begitu mudahnya akan dipecah karena berbagai alasan yang kurang urgen misalkan. Tidak mungkin. Oleh karena itu untuk memecah tabungan yang dibuat dengan susah payah, pasti berpikir berkali-kali untuk melakukannya. Nah, dengan demikian kita telah mengajarkan anak kita untuk menghargai proses. Memang benar tidak semua anak memiliki pemikiran yang seperti itu. Namun hal tersebut menjadi tugas kita para orang tua untuk menjelasnkan dengan bijaksana kepada mereka.

  1. Sabar

Sebenarnya sabar disini adalah satu kesatuan dari pembahan diatas, Menghargai Proses. Sebab orang yang mampu menghargai sebuah proses akan lebih sabar dalam menghadapi suatu persoalan, terutama persoalan yang berkaitan dengan proses yang di maksud. Contohnya ya menabung ini. Tapi mengapa saya uraikan secara berbeda antara ‘Menghardai Proses’ dan ‘Sabar’? Sebab meski kedua hal tersebut saling berkaitan, tapi merupakan suatu hal yang berbeda. Untuk itulah disini peran orang tua menyampaikan secara bertahap kepada anak tentang Sabar dan Menghargai Proses.

  1. Bersyukur

Setelah beberapa proses terlampaui, dan itu berhasil. Maka hanya satu konsekuensi yang akan terjadi (bagi anak yang terdidik), yakni bersyukur. Bersyukur yang saya maksud disini tidak sekedar lisan mengucapkan lafadz hamdalah, Alhamdulillah saja. Tapi lebih kepada rasa syukur yang berpengaruh pada pola pikir dan tindakan anak. Misalkan dalam kasus menabung, anak yang berhasil melalui serangkaian proses, dimulai dari membuat tabungan hingga berhasil mengisi penuh tabungan tersebut. Dia akan menggunakan hasil tabungannya dengan lebih bijaksana, yakni menggunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Bila anak tidak mampu melakukannya, tugas orang tualah untuk menjelaskan kembali serangkaian proses yang telah dilalui hingga sampai proses Bersyukur ini.

Demikianlah sekilas yang bisa saya bagikan. Sangat sederhana, namun bila sedikit saja kita berkenan untuk berpikir lebih kreatif insya’Allah yang sederhana tersebut bisa lebih bernilai.

Kembali pada kisah saya diusia SD dulu, waktu itu saya sangat jarang membeli jajanan di sekolah. Dari pada beli jajan, lebih asyik bermain dengan teman-teman mengisi waktu istirahat berlangsung. Sehingga saya menabung uang saku yang rutin diberikan orang tua setiap hari. Entah kenapa, saya bukan orang yang mudah tergius untuk beli-beli, saya juga tidak suka ngiler ketika melihat teman-teman beli ini dan itu.

Setiap pagi, orang tua mewajibkan saya sarapan. Mungkin inilah salah satu faktor saya tidak suka jajan di sekolah, karena kenyang. Selain itu, di rumah ibu selalu menyediakan camilan yang hampir setiap hari tidak pernah kosong. Saya kurang tahu apa beliau, mungkin beliau berusaha menyediakan camilan di rumah sebab khawatir jajanan diluar tidak lebih baik. Sebab banyak sekali berita tentang makanan kadaluarsa tetap dijual, bahkan jajanan yang menggunakan pewarna bukan pewarna makanan.

Dan bila saya menginginkan suatu jajan di sekolah, biasanya jajana yang dijual musiman dan baru ada. Nah disitu saya membeli sekali selama musim jajanan tersebut. Sebab bagi saya yang penting sudah tahu rasanya, dan saya tidak merasa lapar. Baiklah, ini sekilas tentang pengalaman saya diusia SD yang setelah beberapa tahun kemudian saya kenang dan berpikir untuk mendapatkan sebuah pembelajaran. Catatan ini saya dedikasikan untuk anak-anak melalui para orang tua yang bijaksana dimanapun anda berada.

Dan mungkin dilain kesempatan saya bisa menuliskan uraian tentang menabung untuk didedikasikan kepada para orang tua. Namun melalui kesempatan ini saya hanya bisa memberikan informasi tentang produk finansial terbaik di Indonesia, Cermati.com adalah jawabannya. Insya’Allah hanya di Cermati.com kita akan mendapatkan yang kita inginkan.

Salam. 🙂

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati”

Iklan