Seorang manusia, betapa besar anugerah yang diterima hingga saat ini masih bisa menghirup dan menghembuskan nafas dengan begitu nikmatnya. Hidup adalah anugerah yang tiada ternilai harganya, dan betapa bahagianya bila hidupnya penuh arti, bermakna dan banyak berjasa.

Seorang manusia, menjadi mulia sebab pemikirannya. Dihormati karena keilmuannya, disegani karena kewibawaannya, dan menjadi utama sebab akhlaqnya. Maka bersyukurlah bila hidup kita memiliki salah satu diantaranya, hidupnya telah (bisa dikatakan) sempurna, penuh dengan nilai kebaikan dan keberuntungan.

Namun apalah arti itu semua, bila suatu hal tiba-tiba terjadi dengan begitu dahsyatnya, hingga runtuhlah segala pemikiran baik, runtuhlah semua ilmu dan akhlaq terpuji.

Seorang manusia, seringkali melihat suatu hal begitu simpelnya, sangat sederhana, hingga tak terpikir seberapa besar akibatnya. Sebab hati telah tak kuasa, menunjukkan cara yang sebenarnya, menjadikannya tetap sempurna, bahagia dan sempurna.

Seorang manusia, celakalah ia. Bila telah merasakan hidup dengan begitu indahnya. Namun pada akhirnya ia harus mengakhirinya dengan satu cara yang durja; bunuh diri.

Ya, bunuh diri. Terkadang dianggap sebagai cara yang tepat untuk mengalhiri sebuah masalah dalam hidup. Bukankah hidup ini terlalu indah bila harus, ternodai dengan darah, terlebih itu darah sendiri.

Bunuh diri, sebuah jawaban yang tidak memberikan jaminan, dan hanya ada satu kemungkinan yang pasti. Ialah penyesalah yang nyata baginya.

Dan, ….

Dimohon jangan beranjak dulu!

Gelap, niscaya ia bukanlah apa-apa. Sebatas ruang kosong yang tak tersentuh cahaya. Namun anehnya, kebanyak dari kita begitu takut menjumpainya.

Gelap, adalah suatu cara dimana waktu sedang berproses mempersiapkan cerah seperti terik dan pagi, lalu bergulirlah sebuah kehidupan yang baru.

Celoteh ini, saya dedikasikan untuk seorang teman yang sangat takut gelap namun seringkali ingin mengakhiri suatu persoalan dengan bunuh diri. Tapi percayalah saudara-saudara, siapapun kalian yang baca, ini bukan tentang dirimu. Maafkan saya jika ada yang merasa, sungguh ini bukan tentang dirimu.

Seorang itu, sering merasa takut terhadap gelap. Secara pasti saya tidak tahu mengapa. Namun saya pernah bertanya kepada anak kecil, kenapa dia takut gelap. Maka jawabannya, karena takut disana (tempat yang gelap) ada hantu, dan takut dibunuh oleh hantu. Pada intinya, si anak yang saya tanya ini takut mati. Mungkin demikian juga dengan seorang yang saya maksud ini.

Namun anehnya, bila dia takut dengap dan anggapan saya dia takut mati, mengapa dia seringkali mau bunuh diri?

Adakah diantara kalian yang takut gelap? Kalau boleh tahu, apa alasannya?

Iklan