Alhamdulillah, hingga saat ini kita masih diberi kesempatan berbuat sesuatu (yang bermanfaat). Semoga, segalanya bernilai ibadah. Meski Idul Fitri telah berlalu, meski ramadlan telah terlangkahi. Mari kita tetap semangat menebar kebaikan, bila ramadlan kemarin semangat kita 100 km/jam (ibarat kecepatan motor), sekarang dan seterunsnya harus lebih dari itu guys!

20 Juli kemarin, di sela-sela kesibukan bersama keluarga. Saling mengunjungi, saling bermaafan dan saling melepas rindu bersama keluarga besar. Tertulislah sajak yang sangat sederhana. Meski demikian, insya’Allah ini mewakili catatan panjang tentang kisah lebaran tahun ini.

Lebaran Rasa Baru

idul fitri kali ini

datang dan menghampiri

masih sama seperti yang aku kenali

sejak takbir hingga silaturrahmi

idul fitri kali ini

menyapaku dengan lebih berarti

menyertai rasa bahagia yang pasti

bersama retorika yang kian menjadi-jadi

idul fitri kali ini

lebih pantas aku syukuri

dengan rasa yang tak biasa lagi

lebih nikmat semerbak di hati

idul fitri kali ini

bahagianya bersama seorang istri

menjadikan syukur lebih terpuji

disetiap kebenaran yang kuyakini

Jember, 20 Juli 2015

Kemudian puisi dibawah ini adalah ungkapan sederhana, tentang bagaimana rasa yang dimiliki seorang suami terhadap istrinya.

Kau Alasan Warna Ini

sejak rintih yang kian mengalir

menggiring waktu hingga ke hilir

lalu, kujumpai disetiap warna bibir

aku menyertaimu

dalam setiap persemaian waktu

oleh karena rindu

tak lagi kutemukan yang semerbak wahyu

namun bila kau beranikan diri

menyibak tirai pagi

kau kan jumpai senyum paling pelangi

di setiap alasan warna ini

kau lah yang aku yakini

Jember, 20 Juli 2015

Selanjutnya, saya beserta keluarga telah memaafkan saudara semua. Demikian jua, berkenankah kiranya saudara bermurah hati untuk saya dan keluarga? 🙂

Salam. 😉

Iklan