Televisi, sebuah media yang telah banyak membantu kita semua dalam penyampaian informasi di semua bidang persoalan dalam kehidupan. Alhamdulillah, manfaatnya sangat besar kita rasakan. Namun, setelah banyak hal dan misi hedonisme menyusup pada aktivitas penyiaran tersebut, banyak dirasakan informasi yang kami terima tidaklah sehat dan tidak lagi memberikan suatu manfaat yang benar-benar kami butuhkan.

Menyadari hal tersebut, perlu bagi kami selaku penikmat jamuan televisi untuk berpikir lebih cerdas dalam menerima informasi yang disampaikan. Bersyukur, bila kita masih dapat menyadari dan memfilter diri sendiri. Akan tetapi yang sangat diresahkan bila informasi yang tidak sehat tersebut sampai menjangkit pada pemikiran dan perkembangan kepribadian anak-anak generasi bangsa yang masih dibawah umur. Terutama dalam masalah etika dan moral, yang tentunya dua hal tersebuat merupakan aset dari kepribadian seseorang. Bila etika dan moral mereka hancur, tentu generasi kedepan tidak bisa dipertaruhkan dalam menjalankan kehidupan berbangsa maupun bernegara.

Dalam kehidupan ini, teramat sulit rasanya ditemukan seorang individu yang tidak mengenal televisi, baik mengenal secara kategori sekedar tahu bahwa itu televisi hingga mengenal semua hal tetek bengek dari Televisi itu sendiri. Oleh sebab itu, mustahil rasanya kita bersikap acuh dengan tayangan televisi yang semakin hari semakin tidak layak dikonsumsi secara standart perkembangan pemikiran serta kepribadian anak bangsa. Melalui kesempatan ini, kami bersyukur sekali dapat menyampaikan aspirasi kami dalam hal pentingnya pengawasan, penjagaan hingga melaporkan tayangan-tayangan yang sifatnya merusak cara, pola dan pemikiran para penikmat tayangan televisi, yang dalam hal ini umumnya generasi bangsa anak di bawah umur.

Untuk mengantisipasi terjadinya dekadensi moral yang lebih parah akibat tayangan televisi, penting sekali kita lebih kritis dengan tayangan-tanyangan yang mengarah terhadap hal tersebut dengan tidak segan melaporkan kepada badan yang sudah bertugas dan punya wewenang dalam mengawasi sebuah tayangan di televisi, dalam hal ini yang bertugas adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Apalagi sekarang sudah hadir aplikasi android yang bisa diunduh di gadget kita, Rapotivi namanya. Melalu aplikasi tersebut kita bisa dengan mudah menyampaikan aspirasi tentang tayangan-tayangan televisi yang tidak sehat, tidak benar dan tidak bermanfaat.

Mengingat hal tersebut, marilah kita bersama-sama tanamkan hasrat untuk memiliki televisi. Memiliki televisi seutuhnya, tidak sekedar benda berbentuk kotak persegi yang menampilkan gambar bergerak disertai suara saja. Tetapi memiliki televisi secara menyeluruh, termasuk konten dan tayangan yang disampaikan. Apabila kita telah merasa memilikinya, maka kita akan menjaganya, mengawasinya hingga melaporkannya kepada yang berwenang.

Anggaplah televisi, tayangan dan semua konten yang ada di dalamnya sebagai milik kita bersama. Oleh sebab itu mari kita menjaganya, merawatnya dan rasakan manfaatnya bersama-sama. Hentikan misi-misi negatif menyusup di dalamnya, murnikan kreatifitas pertelevisian dengan niat yang murni, tulus dan bernilai positif. Sehingga informasinya tetap bergizi untuk wawasan anak-anak bangsa ke depan.

Jangan pernah ragu memberantas yang salah, jangan pernah ragu mengatakan yang benar. Mungkin saja kita kalah menyuarakan kebenaran. Tapi percayalah kebenaran selalu memiliki energi untuk memenangkan pejuangnya. Nabi berpesan, sampaikan dariku walau satu ayat. Tapi melalui televisi kita tidak akan sekedar menyampaikan satu ayat saja, meski yang kita sampaikan tidak disiarkan langsung di televisi, tapi apabila suatu hal negative terhentikan dari persoaran televisi. Insya’Allah nilai-nilai kebaikan kita sudah terselip di dalamnya. Semoga bernilai ibadah, dan saya mengajak kembali: Ayok, mari kita miliki televisi! 😉

*Tulisan ini repost dari Notes Facebook yang diikutkan dalam lomba Rapotivi dan mendapat juara favorit 🙂 Alhamdulillah! 

Iklan