Pada tanggal 25 Juli 2015 (hari sabtu) kemarin, atau lebih tepatnya sehari setelah lebaran ketupat. Saya bersama ayah mertua melakukan perjalanan dari Kabupaten Jember menuju Kabupaten Pamekasan. Adapun tujuan dari perjalanan tersebut adalah untuk silaturrahim dan menjalin hubungan bisnis antara ayah mertua dan seorang guru saya di Pamekasan. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa saya asli orang Pamekasan, dan pada tanggal 16 Mei 2015 kemarin saya menikahi tunangan saya yang orang Jember. Walhasil, tahun ini saya merayakan lebaran pertama kali bersama istri tercinta, Alhamdulillah. 🙂

Baiklah, kali ini saya tidak akan banyak membahas tentang bagaimana proses kerjasamanya. Namun terlebih pada sosok guru saya yang insya’Allah cukup menginspirasi, minimal bagi saya sendiri. Beliau bernama KH. Ja’far Shodik Isma’il. Bagi saya, beliau adalah orang tua kedua setelah bapak kandung saya ketika saya belum menikah. Namun setelah menikah, secara otomatis ayah mertua menjadi orang tua kedua, dan beliau yang ketiga.

Bagaimana bisa beliau menjadi orang tua kedua atau ketiga bagi saya? Berawal dari kiprahnya yang luar biasa dalam misi hidup beliau. Sebagaimana pernah beliau sampaikan tentang sabda nabi, – khairunnas anfa’uhum linnas – sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak bermanfaat begi sesama. Berlandaskan sabda nabi tersebut, beliau selalu mencurahkan segala yang beliau miliki untuk mempermudah urusan orang lain. Tidak terkecuali masalah bapak kandung saya. Beliau telah banyak berbuat untuk keluarga saya, baik dalam urusan ukhrowi maupun duniawi.

Dan hal yang menarik dari beliau adalah sebagaimana judul yang saya tulis diatas. Sosok Guru, Motivator dan Investor Syari’ah. Sebagai guru, beliau mampu menyederhanakan suatu topik pembahasan disertai contoh-contoh yang ideal dengan konteks kehidupan masyarakan setempat. Dimana segala yang disampaikan beliau kebanyakan adalah yang telah dialaminya, baik dalam urusan keagamaan maupun keduniawian. Sehingga, dengan bijaknya beliau memberikan solusi sangat mudah dijangkau oleh para masyarakat setempat.

Adapun sebagai motivator, beliau tidak hanya memotivasi dengan kata-kata belaka, tapi dengan tindakan. Contoh konkritnya adalah, ketika beliau menyeru para jama’ah untuk istiqomah sholat berjama’ah di masjid. Beliau juga memfasilitasi jama’ah yang aktif sholat berjama’ah dengan seekor gembala sapi. Enaknya, pengembala disini tidak harus membagi hasil gembalanya 50:50 (fifty-fifty), tapi pengembala mendapat bagian 90 persen dan 10 persen disetorkan kepada bendahara yang dalam hal ini adalah bapak saya sendiri. Tujuannya apa? Agar pengembala tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan yang belum selesai dan cepat mengindahkan panggilan mu’adzin. Selain itu agar terbiasa mengeluarkan hasil usahanya untuk bersedekah. Kemudian, yang 10 persen tadi dikumpulkan kembali sampai bisa membeli satu ekor sapi dan diberikan kepada jama’ah berikutnya, demikian seterusnya. Jadi, beliau rela mengeluarkan puluhan juta rupiah hanya untuk mengentaskan kegelisahan masyarakat setempat, yang dalam hal tersebut dominan masalah perekonomian. Dan yang saya kagumi, beliau tidak sepeserpun menerima hasil dari usaha para pengembala sapi yang beliau modali.

Selanjutnya tentang beliau sebagai investor. Dan dalam hal ini saya menyebutnya investor syari’ah. Sebab beliau teliti betul dan sangat hati-hati terhadap hukup yang berjalan dalam sistem kerja sama. Dalam hal ini saya akan sampaikan tentang kerja sama antara beliau dengan ayah mertua saya yang sebagai peternak bebek petelur. Dalam proposal yang saya tulis, ayah mengajukan bagi hasilnya 70 persen untuk mengelola dan 30 persen untuk investor. Secara kasat mata, dalam hal ini tentu yang sangat diuntungkan adalah pihak pengelola, sebab besar bagi hasilnya cukup signifikan perbedaannya. Namun bila kita sadari, dalam diakhir periode kerjasama nanti pengelola akan merasa sangan kebingunan untuk mengembalikan modal kepada investor. Mengingat nilai yang fluktuatif dari harga afkir bebek (bebek mogok bertelur).

Sehingga, beliau menawarkan sistem bagi hasil yang lebih pas dalam syari’at islam. Dimana islam selalu memberikan solusi tanpa adanya goncangan, tidak terkecuali dalam persoalan kerja sama dalam bisnis. Seperti yang beliau sampaikan, kerja sama dalam islam itu tidak boleh ada yang diuntungkan sebelah, dan tidak boleh ada yang dirugikan sebelah. “Sistem yang pertama ditawarkan dalam proposal itu halal secara syara’, namun hal ini akan merugikan pengelola diakhir periode kerja sama. Dan bila saya tidak sampaikan hal ini, saya selaku investor akan berbuat dzolim terhadap pengelola. Saya tidak mau seperti itu”, jelas beliau dengan tegas.

“Dan kalau menurut saya nih, dunia itu jangan terlalu dipikirkan secara serius. Kita kan hanya dititipi, dan yang memiliki hak penuh itu adalah Allah. Biarlah Allah yang mengatur semuanya. Dan urusan dunia itu terserah bagaimana kita respek pada perintahnya. Misalkan saat kita dipanggil sholat, kalau kita respek melaksanakan sholat diawal waktu, bersiaplah menerima pemberian yang luar biasa dariNya.”

“Jadi bisa dikatakan sholat adalah barometer urusan dunia. Bahkan dalam menyikapi suatu persoalanpun, sholat sangat menentukan. Contoh ketika usaha kita goncang, sebab orang-orang tidak bayar kepada kita. Nah, sikap kita ini sangat dipengaruhi oleh sholat kita. Ada yang sebel, ada yang jengkel dan seterusnya. Dan kalau saya, tidak mau pusing dengan hal itu. Bayar atau tidak terserah, kalau tidak bayar berarti dunia yang Allah titipkan kepada saya telah diambil Allah dengan cara yang seperti itu. Bahkan, andai saja mereka itu meninggal, saya lepaskan hutang-hutangnya, sebesar apapun. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, sabda nabi. Nah mengapa kita harus membebani orang yang telah meninggal dengan hutang? Lebih baik kita lepaskan beban hutangnya biar kita termasuk pada sabda nabi tersebut.” Imbuhnya panjang lebar.

Kemudian beliau menawarkan sistem yang lebih terjamin antara kedua belah pihak. Dimana nilai afkir diakhir pereode kerja sama dibagi jumlah bulan kerja sama yang belum dilalui. Kemudian jumlahnya dikurangkan ke nilai hasil bersih yang didapatkan pada bulan tersebut, setelah itu nilainya dibagi dua untuk pengelola dan investor. Untuk lebih mudahnya, silahkan lihat ilustrasi berikut.

Ilustrasi Bisnis Syari'ah

Mohon maaf apabila ilustrasinya kurang jelas, dan apabila ada yang tidak dimengerti. Boleh kok nanya dikolom komentar 🙂 Ilustrasi tersebut bukan nilai yang sebenarnya, sebab dalam kerja sama antara ayah dan guru saya tersebut berjumlah 2.500 ekor bebek petelur.

Demikian mungkin sepenggal cerita dimoment lebaran saya, mungkin isinya tidak dominan pada sisi tentang lebaran. Tapi cerita ini adalah peristiwa pada momen lebaran, dan ini kenyataany. 😀

Selain itu, karena yang diminta dalam giveaway kali ini adalah cerita inspiratif, kiranya menurut saya kisah tentang sosok guru saya tersebut cukup menginspirasi, minimal bagi diri saya sendiri. Semoga juga demikian untuk yang lainnya. Andai kata tulisan ini tidak terpilih sebagai juara dalam giveaway kali ini, setidaknya masih ada nilai positif barangkali ada yang berkenan mengikuti jejak positif beliau. Dan sekedar informasi nih, siapapun kalian yang beruntung telah membaca tulisan ini, memiliki konsep bisnis yang matang, jelas dan diketahui pasarnya. Silahkan datang kepada beliau, insya’Allah beliau welcome banget. 🙂

Artikel ini diikutsertakan dalam#GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

Iklan