Ibarat sebuah paku yang ditancapkan ke kayu, kita bisa saja mencabut paku tapi tidak lantas menghilangkan bekasnya. Demikian juga kesalahan , kita mungkin saja mudah memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita, tapi rasa sakit dalam hati ini tidaklah mudah dihilangkan. Teringat juga ucapan Gusdur dengan bahasa khasnya, “Saya memaafkan, tapi saya tidak akan melupakan”.

Memaafkan itu mudah, bagi orang yang sadar betapa terpujinya sifat pemaaf. Apalagi dia menyadari bahwa Allah Maha Rahman dan Rahim, lalu apa alasan kita untuk tidak memaafkan? Kemudian, ditambah lagi dengan sabda nabi, khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Sabda tersebut bisa dikatakan kita bukanlah termasuk muslim yang baik bila masih menjadi sebab orang lain susah dan harus menghadapi persidangan yang rumit di akhirat kelak.

Iklan