Bagi suami, tiada yang lebih mengembirakan kecuali memenuhi setiap apa yang diinginkan istri tercinta. Dengan demikian pulalah suami akan dikatakan baik, mungkin. Namun sesungguhnya tidak. Suami yang baik hanya memenuhi keinginan istri yang benar-benar dibutuhkan.

Pagi ini, kami sebagai keluarga yang sangat sederhana dalam segalanya. Sederhana dalam gaya hidup, sederhana dalam pemikiran bahkan mental. Melakukan aktivitas yang juga sederhana. Saya baca-baca dan istri saya mengulang hafalan qurannya.

Tiba-tiba, seusai menyelesaikan hafalannya. Dia bertanya, “Bi, boleh ndak umi beli sampul Quran?” seraya senyum-senyum kacau gitu. Dia mengerti bahwa saya akan sulit mengabulkannya. Karena dia sudah tahu bahwa saya akan bertanya balik. “Apakah jika tidak dibelikan sampul, Qurannya tidak bisa dibaca?”, jawabku dengan senyum yang lebih kacau.

Adalah nilai positif bagi mereka yang telah memiliki kreativitas tinggi. Bisa membuat berbagai macam hal dan bisa dipasarkan. Apalagi dipasarkan secara online, yang otomatis istri saya berkemungkinan besar untuk mengetahuinya (sebab sudah kerjaannya dalam bidang olshop gitu) dan membelinya (jika saya izinkan). Tapi bagi keluarga sederhana seperti kami, hal itu bisa jadi malapetaka. Kenapa? Jangan ditanya dah. Saya percaya kalian sudah pada cerdas semua. 🙂

Terkadang persoalan sederhana seperti ini, menjadi bencana besar dalam keluarga sederhana (dalam segalanya). Namun kesederhanaan dalam keluarga tersebut akan sedikit terkikis dengan persoalan-persoalan yang kian menghampiri. Percayalah, itu semua hanya persoalan waktu, dan kesabaran yang kita miliki. Semoga semua persoalan dalam hidup kita mengandung hikmah, sehingga kita menjadi semakin bijaksana. Salam. 🙂

Iklan