Beberapa hari yang lalu, terdengar berita menyedihkan dari insiden brutal sekelumpok (bukan) suporter klub sepak bola tanah air. Aksi tersebut menuai hasil yang sangat memilukan bagi keluarga korban yang harus menerima anggota keluarganya tutup usia. Sangat disayangkan, harusnya perhelatan olahraga paling dianggap bergengsi ini menjadi ajang kompetisi yang bisa menghibur, namun ternyata berakibat pada tindakan kriminal.

Mengapa insiden itu terjadi?

Ada beberapa cara pandang dalam menelaah kasus tersebut, apalagi ditinjau dari berbagai nalar pemikiran, baik dari budaya, sosial maupun pendidikan dan yang lainnya. Dan yang paling sederhana, penyebab dari insiden tersebut dalam perspektif kami adalah krisisnya mental kebersamaan. Adanya ketidak mampuan untuk berbagi dan sikap saling mempertanggungjawabkan yang minim.

Andai saja mereka memiliki mental kebersamaan yang besar, tentu tidak akan terlintas dalam hati dan benak mereka bahwa mereka adalah dari golongan ini atau golongan itu, tapi mereka akan meyakini bahwa mereka adalah Indonesia. Sehingga kecil kemungkinan akan terjadinya insiden yang sangat menyedihkan dan memalukan tersebut.

Kemudian, bila saja ada sikap tanggung jawab yang besar, yakni tanggung jawab dalam kebersamaan tentu tiada pernah kan terlintas menjadikan Indonesia menjadi berkotak-kotak, tapi akan bersama-sama menyongsong harapan atas nama Indonesia. Sebab, meski memang mereka lawan tanfing di lapangan hijau, tetaplah teman bahkan saudara dalam olahraga persepak bolaan.

Kemudian ini mrnjadi tanggung jawab bersama, membentuk pola pikir yang bijaksana seingga nusantara tetaplah digdaya dengan hamparan tanah airnya. Dan tiada lagi pemikiran untuk mempersempir ruang gerak kita bersama.

Iklan